Dalam kemelut jalan yang berputar-putar dan serba macet, dalam segala upaya dari setiap orang menebas udara pengap dengan agama di kepala dan rokok di tangan. Kau masih saja menolak untuk menanam arus sungai di tubuh mu.
"Biar saja darah ku mengalir tanpa arus. Biarkan nadi di leher ku berdenyut tanpa gemuruh."
Begitulah, selepas mandi kita membaca puisi itu sambil berkaca di selokan yang airnya hitam. Tempat makam para penyair negeri ini. "Ah jiwa-jiwa yang meranggas" kata mu terkekeh.
Lihat di sana, di tengah jalan itu orang-orang berkeringat, memeras impiannya. "Kota cuman penjara buat mereka yang punya harapan ya"
EH kok gitu? Kata ku! Kau cuman melengos tertawa lalu melompat menyeberang jalan tol, berjingkat diantara mobil dan truk. Ku kejar kau hingga terpeleset di bawah jembatan layang. Berlari kecil di antara kabel-kabel internet yang bergoyang.
Hingga akhirnya sampailah kita di pinggir kampung. Kau terenyuh. Di antara sayup-sayup sinar sore yang memantul di riak air, ada mayat seorang laki-laki bertato diarak arus Ciliwung yang hendak ke muara. Ribuan ikan sapu-sapu berdzikir di tepian. Pohon-pohon Bakung nunduk melayu.
Kau semakin jauh.
2026
