Minggu, 28 Juni 2026

Kepada Yth. Sahabat

Dalam kemelut jalan yang berputar-putar dan serba macet, dalam segala upaya dari setiap orang menebas udara pengap dengan agama di kepala dan rokok di tangan. Kau masih saja menolak untuk menanam arus sungai di tubuh mu. 

"Biar saja darah ku mengalir tanpa arus. Biarkan nadi di leher ku berdenyut tanpa gemuruh."

Begitulah, selepas mandi kita membaca puisi itu sambil berkaca di selokan yang airnya hitam. Tempat makam para penyair negeri ini. "Ah jiwa-jiwa yang meranggas" kata mu terkekeh.

Lihat di sana, di tengah jalan itu orang-orang berkeringat, memeras impiannya. "Kota cuman penjara buat mereka yang punya harapan ya" 

EH kok gitu? Kata ku! Kau cuman melengos tertawa lalu melompat menyeberang jalan tol, berjingkat diantara mobil dan truk. Ku kejar kau hingga terpeleset di bawah jembatan layang. Berlari kecil di antara kabel-kabel internet yang bergoyang.

Hingga akhirnya sampailah kita di pinggir kampung. Kau terenyuh. Di antara sayup-sayup sinar sore yang memantul di riak air, ada mayat seorang laki-laki bertato diarak arus Ciliwung yang hendak ke muara. Ribuan ikan sapu-sapu berdzikir di tepian. Pohon-pohon Bakung nunduk melayu.

Kau semakin jauh.

2026

Sabtu, 08 November 2025

Guguran

Setiap kemarau, pohon-pohon di halaman rumah kita menjelma menjadi pisau tajam yang saling menyayat, kau terkesima melihat daun-daun dan kelopak bunga yang berguguran itu. 

Lihat di atas sana, awan-awan hitam patah berhamburan
tumpah meresap ke lubang-lubang tanah

Tunas-tunas rumput terperanjat di hempas gravitasi

Selamat pagi! Kata angin yang langsung masuk menabrak daun jendela.
Benda-benda di rumah ribut, saling beradu, berisik, gelas-gelas retak, jantung berdetak, pecah

Nov 2025

Rabu, 08 Oktober 2025

Remuk

Foto-foto di dinding dijaga kecemasan. Setiap benda dalam kamar ini menjelma menjadi gelembung sabun, melayang ke udara lalu pecah di mata. Pedih. 

Ah, mengapa aku tak mengerti juga. Dari telepon itu terdengar suara-suara ganjil, kecemasan menggenang, senyap, tak ada lagi gelombang. 

Matahari bergerak membelah waktu, mengecup dahi ku yang hangat. Kenangan menjadi senjata di hati, menjaga saat-saat sepi. 

Di antara malam dan malam. Jantung ku berderak di antara rak piring. Saling berdenting, memancarkan frekuensi senada dengan suaramu yang remuk.

Oct 2025



Mitos Kebahagiaan

Kita pernah membuat rumah. Di dalamnya kaca-kaca berembun. Di situ kau menggambar binatang-binatang saling menerkam. Kisah-kisah lampau yang liar, terlepas dari ikatan waktu yang tak wajar. 

Kita pernah membongkar rumah. Di dalam tumpukan yang kacau, cucian yang basah, dan bau obat-obatan terdengar suara adzan dan keheningan yang mengancam. Tak ada lagi yang mengusik kita. Tak ada lagi yang mengalir dari air mata.

Kita pernah merawat taman.
Di sana tubuhmu menjelma menjadi hujan,
deras sekali.

Oct 2025

Kamis, 21 Agustus 2025

Semak-Semak

Dahulu di halaman rumah kami banyak tumbuh semak-semak,
Ayah seringkali meludah di sana

"Cih! Hidupmu itu jangan seperti rumput, 
tumbuh hanya untuk dinjak-injak!"

Begitulah yang dia ucapkan
setiap kali ia menyuruh ku memotong belukar itu.

Ayah benci sekali dengan semak-semak.
Tapi aku justru mencintai mereka,
para begundal yang tak rela mati
meski setiap bulan kami bakar.

Setelah dewasa, aku mulai menanam semak-semak dalam kepalaku.
Menutupi kegersangan, dan kerontang yang mendidih.
Di sana aku membangun rumah dari alang-alang,
rumah sederhana tanpa rencana,
beralaskan rumput dengan pintu daun talas.

Setiap malam aku duduk di ambalan terasnya, 
menegur angin yang mengacak-acak daun, 
menunggu hujan membawa bau tanah basah  

Dalam senyap itu, seringkali aku dengar
sayup-sayup suara ayah meludah.

Agustus 2025

Rabu, 20 Agustus 2025

Upacara Bendera

"Satu tiang untuk semua!"
Kata ibu guru kepada murid-muridnya.

"Hormat kita kepada bendera!"
kata kepala sekolah kepada
tukang telur gulung di warung sebelah.

"Siap ndan!" Begitu katanya,
tidak kepada siapa-siapa. 

Jalanan senyap,
angin mengendap,

langit memar

Dalam batinnya tersimpan kenangan
ketika dia menaikan bendera waktu masih sekolah.

Bendera itu naik ke langit, gagah memandanginya
dari atas. Begitu tinggi. 

"Bu, aku ingin menjadi bendera!"
Ibunya yang sudah pusing lalu menempelengnya. 
Bocah edan!

Malam itu ia bermimpi,
Ia benar-benar jadi bendera.

Berkibar sendirian
di halaman sekolah.

Agustus 2025

Kamis, 31 Juli 2025

Selisih dalam Muara

01

Lalu, deru gemuruh batu-batu itu menelan kebisingan dalam kepala ku,
satu per satu makna yang telah dipahami tujuannya mengucapkan selamat tinggal

"Sampaikan salam ku pada tanda tanya, kepada titik-titik yang tanggal tanpa jawaban.."

Kata mereka di antara sayup-sayup deru motor
membawa mu ke ujung jalan tertelan tikungan.

02

Langit sore membakar tembok-tembok kota hingga membara.
Dalam suasana khusuk yang panjang, seorang muazin berdoa di surau yang becek:

Tuhan, kini kekosongan telah merajalela di mana-mana, 
membungkam segala kebisingan, memusnahkan keinginan.
Tuhan, maafkan kegelisahan kami. 

Ricik tipis suara air dalam muara nadi mu mengalir
deras, sekelebat. Membanjiri saraf di ujung pori-pori.

03

Mari kita mencuci muka, membersihkannya dari abu api yang
membakar puncak-puncak udara.

Bunga-bunga menjerit diatas retak tanah yang mengerang,
terguyur air dalam serat kemarahan
yang tersisa hari ini.

Agustus 2025


Senin, 17 Maret 2025

Babak 2 (Prolog)

Kaca pecah dalam diriku, lalu kegelapan mengamuk,
cahaya surut di ujung mata.
Di sana, aku bersalaman dengan sunyi (akhirnya sampai juga),
ia memelukku sambil berkata:

""Derita adalah derit laci yang tak pernah kau buka,
di sana tersimpan rahasiamu yang tertulis dengan api."

Asap membumbung di jalan-jalan,
membutakan burung-burung,
menyekap doa-doa.

Udara pedih, langit terbakar,
pintu telah dikunci, selimut telah digelar,
waktu telah habis.

Sia-sia.

Maret 2025

Babak 1

1/

Lihat di sana, luka terselubung dalam lipatan celana,
sebab cuaca tak pernah bisa ditebak maunya apa.
Kau pun buru-buru menyimpan ragu itu
ke dalam kotak makan berwarna biru.

"Untuk nanti," katamu.
Bekal untuk perjalanan panjang
menuju janji yang tak pernah sepakat:
haruskah ditemani atau ditepati?

2/

Kau memahami bahwa mungkin saja
ada kelok di ujung sana.
Mungkin saja, setelah segala upaya,
hal yang kau maklumi
ternyata harus diperbaiki.

Kita tak mungkin lagi berputar arah,
sebab kota sudah terendam oleh air mata,
gelombangnya membawa segala sumpah dan
sampah yang pernah kita buang ke dalam kepala.

Ke sana, ke mari. Kau terombang-ambing.
Celanamu basah, lukamu membusuk. 

Mar 2025

Senin, 23 September 2024

Tukang Mie Tek-Tek

Gerobak itu di dorongnya dengan khusuk. 
Di sebuah jalan yang menanjak ia sambut derita itu sambil membaca basmalah kepada pemilik semesta yang menggodanya dengan derik jangkrik dan suara-suara gaib menggema dari roh-roh pohon cemara.

Sambil menarik nafasnya yang melayang,
ia dengar doa-doa para leluhur menjulur turun dari langit:

"O para priayayi sunyi yang santun, 
lantukan lah lagu tentang pendar purnama 
yang memancar menerangi tepian hutan.." 

"O batu pualam yang tenang,
biarkan aku duduk di sisi para wali, 
dikelilingi sukma cahaya.. berkasur raga"

Di jalan setapak itu, di langkahnya yang gemetar,
semesta bersujud di bawah kakinya

2024