Rabu, 08 Oktober 2025

Remuk

Foto-foto di dinding dijaga kecemasan. Setiap benda dalam kamar ini menjelma menjadi gelembung sabun, melayang ke udara lalu pecah di mata. Pedih. 

Ah, mengapa aku tak mengerti juga. Dari telepon itu terdengar suara-suara ganjil, kecemasan menggenang, senyap, tak ada lagi gelombang. 

Matahari bergerak membelah waktu, mengecup dahi ku yang hangat. Kenangan menjadi senjata di hati, menjaga saat-saat sepi. 

Di antara malam dan malam. Jantung ku berderak di antara rak piring. Saling berdenting, memancarkan frekuensi senada dengan suaramu yang remuk.

Oct 2025



Tidak ada komentar:

Posting Komentar