"Halo semuanya!"
Suara pembawa acara memantul di dinding-dinding lobi, menyeruak di antara hiruk-pikuk mall. Beberapa orang mulai mendekat ke arah panggung, sebagian lainnya masih sibuk berbincang, beberapa orang yang kebetulan lewat dekat situ, menoleh lalu jalan kembali.
"Hari ini kita kedatangan tamu yang sangat istimewa! Kalian pasti penasaran, kan?" Suaranya penuh semangat, mempermainkan antisipasi orang-orang. "Baiklah, hadirin sekalian… sambutlah dengan meriah, Sang Hyang Wisnu!"
Puluhan telepon genggam terangkat dalam serempak yang nyaris mekanis. Dan dari kejauhan, Bhirawan, sang garuda, muncul dengan anggun—membelah langit mall dari arah parkiran, melesat rendah, menyusup ke lobi utara. Sayapnya mengembang. Melayang, berputar sejenak di udara, sebelum dengan lembut mendarat di atas panggung.
Beberapa satpam di luar kaget lalu sibuk bertanya ke panitia. Resepsionis yang setengah mengantuk tiba-tiba bangun dan mengambil HT, entah melapor ke siapa.
"Ok! Hari ini kita kedatangan tamu istimewa! Sang Hyang Wisnu! Jauh-jauh dari Gunung Semeru lhoo"
Sang Hyang Wisnu melangkah turun dari tumpangannya dengan anggun, namun diamnya memancarkan kekuatan yang menyesakkan. Mata birunya yang bercahaya, seperti lautan tak bertepi, menyapu kerumunan. Orang-orang mengangkat tangan mereka, tapi bukan untuk menyambut, apalagi berdoa— Cahaya blitz kamera berkedip-kedip, terpantul di kulit biru Sang Hyang Wisnu yang mengilap.
"Sang Hyang Wisnu.. bagaimana bisa di ceritakan gak gimana rasanya ke sini untuk pertama kali? Panas ya? Haha"
Pembawa acara bertanya sambil tersenyum bercanda. Penonton terdiam. Sang Hyang Wisnu membisu.
"Okee kayaknya masih penyesuaian nih.. habis perjalanan jauh. Ayo beri tepuk tangan dulu dong untuk Sang Hyang Wisnu!"
Satu mall riuh dengan suara tepuk tangan, suara gemuruh membuat beberapa pengunjung penasaran hingga menoleh dari balkon.
"Kira-kira di sini ada yang tau gak, kenapa Sang Hyang Wisnu dateng ke sini? Hayo.. ada yg tau?"
Beberapa orang menjawab tapi malu-malu. Lalu seorang panitia terburu-buru memberikan mic ke salah satu penonton.
"Mau nonton Coldplay!"
Gerr.. orang-orang tertawa, pembawa acara tertawa, panitia tersenyum, satpam mengangguk angguk. Sang Hyang Wisnu membisu.
"Bisa jadi bisa jadi, kan Coldplay ada videonya tuh di India, mungkin Sang Hyang Wisnu mau jadi bintang tamunya mungkin?"
Kata pembawa acara berkelakar sambil menatap Sang Hyang Wisnu yang masih juga tidak bergeming. Pembawa acara menoleh ke panitia, mengangkat alisnya meminta petunjuk. Panitia memberi isyarat sesuatu.
Suasana di panggung mulai mencemaskan, sebab Sang Hyang Wisnu hanya membisu menatap ke depan sambil berkacak dengan keempat lengannya. Bunyi logam berdenting beradu dari gelang-gelang yang ia kenakan. Tubuhnya yang biru mengilap terkena lampu blitz dari handphone. Beberapa orang batuk-batuk. Anak kecil minta pulang.
Suasana perlahan berubah hening. Denting logam dari gelang-gelang Sang Hyang Wisnu semakin jelas terdengar di tengah sorakan yang perlahan mereda. Seperti ada yang terputus di udara, sebuah keanehan mulai dirasakan oleh para pengunjung, yang tadi riang kini beralih ke gelisah. Sang Hyang Wisnu tetap tidak bergeming, namun pandangannya tajam, menembus dinding-dinding mall yang megah, menembus setiap manusia di depannya.
Pembawa acara mulai canggung. Wajahnya yang sebelumnya semringah, perlahan memucat. Dia mencoba melontarkan canda lagi, namun suaranya terdengar gemetar.
"Eh.. apa mungkin Sang Hyang Wisnu belum makan ya? Wah.. kita lupa nyediain jamuan buat dewa ini.."
Suaranya kini hanya terdengar seperti gumaman, seperti usaha yang sia-sia untuk meredakan kecanggungan yang mulai memuncak. Sebagian orang mulai menurunkan ponselnya, tak ada lagi yang mengabadikan momen itu. Justru semakin banyak yang beranjak mundur, mengambil jarak.
Sang Hyang Wisnu akhirnya bergerak. Dengan lembut, dia mengangkat salah satu tangannya. Gerakannya halus tapi penuh kuasa, seolah seluruh ruang di sekitarnya menunduk dalam kehendaknya.
Dalam sekejap, angin dingin berhembus kencang dari arah pintu lobi, membawa serta daun-daun kering yang entah bagaimana bisa muncul tiba-tiba. Mall yang biasanya dipenuhi manusia-manusia kota, kini tampak seperti arena ritus kuno yang menanti sesuatu yang besar, yang tak terduga.
Sang Hyang Wisnu menatap tajam ke arah kerumunan. Dan dengan suara selembut sutra, dia berkata, "Waktumu hampir habis, manusia."
Satu kilatan cahaya keluar dari keempat tangannya yang terangkat ke langit. Angin semakin kencang, kaca-kaca etalase pecah berhamburan, lampu-lampu mall bergetar lalu redup. Dalam kegelapan, hanya ada suara Sang Hyang Wisnu yang bergema.
--
2024