Sabtu, 08 November 2025

Guguran

Setiap kemarau pohon-pohon di halaman rumah kita menjelma menjadi pisau tajam yang saling menyayat, kau terkesima dengan daun-daun dan kelopak bunga yang berguguran itu. 

Lihat di atas sana, awan-awan hitam patah berhamburan lalu tumpah meresap ke lubang-lubang di tanah. Tunas rumput, daun talas, bunga kemangi, kuyup.

Selamat pagi! Kata angin yang langsung masuk menabrak daun jendela dengan gegabah. Jam berdetak dan berdetik. Pintu dan buku mengetuk dan mengetik. 

Kau bergeming dan berpaling. 

Nov 2025

Rabu, 08 Oktober 2025

Remuk

Foto-foto di dinding dijaga kecemasan. Setiap benda dalam kamar ini menjelma menjadi gelembung sabun, melayang ke udara lalu pecah di mata. Pedih. 

Ah, mengapa aku tak mengerti juga. Dari telepon itu terdengar suara-suara ganjil, kecemasan menggenang, senyap, tak ada lagi gelombang. 

Matahari bergerak membelah waktu, mengecup dahi ku yang hangat. Kenangan menjadi senjata di hati, menjaga saat-saat sepi. 

Di antara malam dan malam. Jantung ku berderak di antara rak piring. Saling berdenting, memancarkan frekuensi senada dengan suaramu yang remuk.

Oct 2025



Mitos Kebahagiaan

Kita pernah membuat rumah. Di dalamnya kaca-kaca berembun. Di situ kau menggambar binatang-binatang saling menerkam. Kisah-kisah lampau yang liar, terlepas dari ikatan waktu yang tak wajar. 

Kita pernah membongkar rumah. Di dalam tumpukan yang kacau, cucian yang basah, dan bau obat-obatan terdengar suara adzan dan keheningan yang mengancam. Tak ada lagi yang mengusik kita. Tak ada lagi yang mengalir dari air mata.

Kita pernah merawat taman.
Di sana tubuhmu menjelma menjadi hujan,
deras sekali.

Oct 2025

Kamis, 21 Agustus 2025

Semak-Semak

Dahulu di halaman rumah kami banyak tumbuh semak-semak,
Ayah seringkali meludah di sana

"Cih! Hidupmu itu jangan seperti rumput, 
tumbuh hanya untuk dinjak-injak!"

Begitulah yang dia ucapkan
setiap kali ia menyuruh ku memotong belukar itu.

Ayah benci sekali dengan semak-semak.
Tapi aku justru mencintai mereka,
para begundal yang tak rela mati
meski setiap bulan kami bakar.

Setelah dewasa, aku mulai menanam semak-semak dalam kepalaku.
Menutupi kegersangan, dan kerontang yang mendidih.
Di sana aku membangun rumah dari alang-alang,
rumah sederhana tanpa rencana,
beralaskan rumput dengan pintu daun talas.

Setiap malam aku duduk di ambalan terasnya, 
menegur angin yang mengacak-acak daun, 
menunggu hujan membawa bau tanah basah  

Dalam senyap itu, seringkali aku dengar
sayup-sayup suara ayah meludah.

Agustus 2025

Rabu, 20 Agustus 2025

Upacara Bendera

"Satu tiang untuk semua!"
Kata ibu guru kepada murid-muridnya.

"Hormat kita kepada bendera!"
kata kepala sekolah kepada
tukang telur gulung di warung sebelah.

"Siap ndan!" Begitu katanya,
tidak kepada siapa-siapa. 

Jalanan senyap,
angin mengendap,

langit memar

Dalam batinnya tersimpan kenangan
ketika dia menaikan bendera waktu masih sekolah.

Bendera itu naik ke langit, gagah memandanginya
dari atas. Begitu tinggi. 

"Bu, aku ingin menjadi bendera!"
Ibunya yang sudah pusing lalu menempelengnya. 
Bocah edan!

Malam itu ia bermimpi,
Ia benar-benar jadi bendera.

Berkibar sendirian
di halaman sekolah.

Agustus 2025

Kamis, 31 Juli 2025

Selisih dalam Muara

01

Lalu, deru gemuruh batu-batu itu menelan kebisingan dalam kepala ku,
satu per satu makna yang telah dipahami tujuannya mengucapkan selamat tinggal

"Sampaikan salam ku pada tanda tanya, kepada titik-titik yang tanggal tanpa jawaban.."

Kata mereka di antara sayup-sayup deru motor
membawa mu ke ujung jalan tertelan tikungan.

02

Langit sore mengelus tembok-tembok kota hingga membara.
Dalam suasana khusuk yang panjang, seorang muazin berdoa di surau yang becek:

Tuhan, kini kekosongan telah merajalela di mana-mana, 
membungkam segala kebisingan, memusnahkan keinginan.
Tuhan, maafkan kegelisahan kami. 

Ricik tipis suara air dalam muara nadi mu mengalir
deras, sekelebat. Membanjiri saraf di ujung pori-pori.

03

Mari kita mencuci muka, membersihkannya dari abu api yang
membakar puncak-puncak udara.

Bunga-bunga menjerit diatas retak tanah yang mengerang,
terguyur air dalam serat kemarahan
yang tersisa hari ini.

Agustus 2025


Senin, 17 Maret 2025

Babak 2 (Prolog)

Kaca pecah dalam diriku, lalu kegelapan mengamuk,
cahaya surut di ujung mata.
Di sana, aku bersalaman dengan sunyi (akhirnya sampai juga),
ia memelukku sambil berkata:

""Derita adalah derit laci yang tak pernah kau buka,
di sana tersimpan rahasiamu yang tertulis dengan api."

Asap membumbung di jalan-jalan,
membutakan burung-burung,
menyekap doa-doa.

Udara pedih, langit terbakar,
pintu telah dikunci, selimut telah digelar,
waktu telah habis.

Sia-sia.

Maret 2025

Babak 1

1/

Lihat di sana, luka terselubung dalam lipatan celana,
sebab cuaca tak pernah bisa ditebak maunya apa.
Kau pun buru-buru menyimpan ragu itu
ke dalam kotak makan berwarna biru.

"Untuk nanti," katamu.
Bekal untuk perjalanan panjang
menuju janji yang tak pernah sepakat:
haruskah ditemani atau ditepati?

2/

Kau memahami bahwa mungkin saja
ada kelok di ujung sana.
Mungkin saja, setelah segala upaya,
hal yang kau maklumi
ternyata harus diperbaiki.

Kita tak mungkin lagi berputar arah,
sebab kota sudah terendam oleh air mata,
gelombangnya membawa segala sumpah dan
sampah yang pernah kita buang ke dalam kepala.

Ke sana, ke mari. Kau terombang-ambing.
Celanamu basah, lukamu membusuk. 

Mar 2025

Senin, 23 September 2024

Tukang Mie Tek-Tek

Gerobak itu di dorongnya dengan khusuk. 
Di sebuah jalan yang menanjak ia sambut derita itu sambil membaca basmalah kepada pemilik semesta yang menggodanya dengan derik jangkrik dan suara-suara gaib menggema dari roh-roh pohon cemara.

Sambil menarik nafasnya yang melayang,
ia dengar doa-doa para leluhur menjulur turun dari langit:

"O para priayayi sunyi yang santun, 
lantukan lah lagu tentang pendar purnama 
yang memancar menerangi tepian hutan.." 

"O batu pualam yang tenang,
biarkan aku duduk di sisi para wali, 
dikelilingi sukma cahaya.. berkasur raga"

Di jalan setapak itu, di langkahnya yang gemetar,
semesta bersujud di bawah kakinya

2024



Jarak Rasa

Kita adalah sepasang yang berubah ubah, 
dari warna kuning ke biru, lalu kelabu ke magenta. 
Kadang menggelepar lalu membusuk, tenang kemudian berdebar. 
Dari cinta kemudian jatuh, benci lalu kita duduk, membaca nafas masing-masing hingga musim kemarau datang membawa rasa panas, rasa laut, 
rasa asing yang tertunda karena di hadang cita-cita dan sia-sia. 

Mari kita hitung sepi yang tersisa pada riuh jalan ini, 
jalan yang berdenyut dalam pecahan kaca spion,
di sana kita saksikan langit berkobar seperti dendam. 

Dada senja terbelah. Remuk. Hancur berserakan.

Apakah keindahan hanya tersusun dari keheningan?
Kekhusyukan dalam sulur-sulur cahaya yang kekal? 

Disanalah cinta dan maut bertemu, 
di ujung senja yang telanjang 
di kota yang tak pernah henti-hentinya membongkar dirimu. 

--

2018