Senin, 17 Maret 2025

Babak 1

1/

Lihat di sana, luka terselubung dalam lipatan celana,
sebab cuaca tak pernah bisa ditebak maunya apa.
Kau pun buru-buru menyimpan ragu itu
ke dalam kotak makan berwarna biru.

"Untuk nanti," katamu.
Bekal untuk perjalanan panjang
menuju janji yang tak pernah sepakat:
haruskah ditemani atau ditepati?

2/

Kau memahami bahwa mungkin saja
ada kelok di ujung sana.
Mungkin saja, setelah segala upaya,
hal yang kau maklumi
ternyata harus diperbaiki.

Kita tak mungkin lagi berputar arah,
sebab kota sudah terendam oleh air mata,
gelombangnya membawa segala sumpah dan
sampah yang pernah kita buang ke dalam kepala.

Ke sana, ke mari. Kau terombang-ambing.
Celanamu basah, lukamu membusuk. 

Mar 2025

Senin, 23 September 2024

Tukang Mie Tek-Tek

Gerobak itu di dorongnya dengan khusuk. 
Di sebuah jalan yang menanjak ia sambut derita itu sambil membaca basmalah kepada pemilik semesta yang menggodanya dengan derik jangkrik dan suara-suara gaib menggema dari roh-roh pohon cemara.

Sambil menarik nafasnya yang melayang,
ia dengar doa-doa para leluhur menjulur turun dari langit:

"O para priayayi sunyi yang santun, 
lantukan lah lagu tentang pendar purnama 
yang memancar menerangi tepian hutan.." 

"O batu pualam yang tenang,
biarkan aku duduk di sisi para wali, 
dikelilingi sukma cahaya.. berkasur raga"

Di jalan setapak itu, di langkahnya yang gemetar,
semesta bersujud di bawah kakinya

2024



Jarak Rasa

Kita adalah sepasang yang berubah ubah, 
dari warna kuning ke biru, lalu kelabu ke magenta. 
Kadang menggelepar lalu membusuk, tenang kemudian berdebar. 
Dari cinta kemudian jatuh, benci lalu kita duduk, membaca nafas masing-masing hingga musim kemarau datang membawa rasa panas, rasa laut, 
rasa asing yang tertunda karena di hadang cita-cita dan sia-sia. 

Mari kita hitung sepi yang tersisa pada riuh jalan ini, 
jalan yang berdenyut dalam pecahan kaca spion,
di sana kita saksikan langit berkobar seperti dendam. 

Dada senja terbelah. Remuk. Hancur berserakan.

Apakah keindahan hanya tersusun dari keheningan?
Kekhusyukan dalam sulur-sulur cahaya yang kekal? 

Disanalah cinta dan maut bertemu, 
di ujung senja yang telanjang 
di kota yang tak pernah henti-hentinya membongkar dirimu. 

--

2018 

Rabu, 01 Mei 2024

Jalan Memutar

Kita pasrah saja ketika jalan mendadak ngambek,
meminta kita memutar arah.

Katanya: "Di depan sudah tidak ada lagi tikungan, tidak juga persimpangan, tidak ada lagi cara untuk kembali ke tempat asal, harap sabar"

Suasana tercabik-cabik, matahari menghilang. 

Kita telah tersesat..

2024


Selasa, 11 Agustus 2020

Kering

Aku ingin cerita tentang ini dan itu 

karena apa adanya diriku rupanya menelantarkan tubuhku ke dalam linangan 
layaknya layang-layang terpaut ranting-ranting
rasanya malas saja kalau harus seperti itu
rasanya asing saja jika mau seperti itu

Tikar di lantai kamar bilang padaku;
"Telantarkan tubuhmu kemari, kami akan peluk dengan ikhlas dirimu, tidak seperti mereka yang membuat udara diantara tubuhmu"

o, rasa sakit dan gurun-gurun yang bergeser geser setiap kali
kau lihat benang-benang terpaut antara mereka

Kami tau itu..

Kupu-kupu yang tersesat di jendela nanar memandang diriku
telanjang berlipat tikar, seperti kremasi sebuah jiwa yang tak rela untuk dilepas.

Kupu-kupu dijendela merasa asing,
kupu-kupu di telaga yang kucari hinggap di mawar kering.

Gurun dalam hatiku bergeser-geser
bergerak-gerak kesana kemari
pedih rasanya
sakit rasanya
kering

Depok, April 08 -- 

Puisi adalah bagian dari kumpulan puisi-puisi lama yang di tulis sekitar 2007-2008 di Depok, Jawa Barat.

Senin, 10 Agustus 2020

Mari berpacaran di kuburan

Entah karena peduli apa hingga aku menghadiahkan kau seikat malaikat maut dalam buket kafan terbaik.

Kau menciumku dalam keabadian ketika hari itu kuberikan hadiah itu (berikut juga hujan yang lupa untuk berhenti)

Tanpa peduli, kita berpacaran di kuburan bersama bunga kamboja dengan iringan tahlil dan air mata yang menguap di tanah merah.

Kranggan, Pondok Gede. 2008

--

Ini adalah bagian dari seri puisi-puisi lama yang di tulis sekitar 2007-2008 di Depok dan Kranggang, Jawa Barat. 



Bicara tentang cinta yang tanggung

Karena tanggung,
maka aku merasakan jika kabut sering kali turun diantara jarak nafas ku dan nafas mu

Kamu berkata dengan kalimat tak selesai, aku menjawab dengan tergesa-gesa

Karena tanggung,
maka udara sering kali menjadi gas asing yang menghalangi diantara auramu aura ku

Kenapa harus begitu?
Semenjak aku bercerita tentang senja dan sore
dan terselip gerimis, aku berpaling dari nyawa dan kata-kata yang
terbatas artinya. 

Meledak perasaan di dada..

Karena tanggung, suara ku sedikit tertahan setiap kali wajah mu dan wajah kita berpandang.. 

Depok, 2008

--

Ini adalah bagian dari seri puisi-puisi lama yang di tulis sekitar 2007-2008 di Depok, Jawa Barat. 

 

Menangisi Diri

Bagaimana caranya aku begitu lupa ketika hari itu
aku menemukan sedikit nada di telingaku yang telah lama
mendengarkan bingar mereka

Bagaimana pula caranya tiba-tiba itu melesat begitu saja
sehingga aku benar-benar yakin
bahwa tangis hanyalah bagi yang mencintai kenangan

Aku membusungkan dada di hadapan sore yang terbenam
sementara di tengkuk ku tergores riak yang diam-diam
berkata:

Jika ini sakit, kau sudah rasa segala nikmat, namun kau alpa
hingga yang berkuasa menurunkan sedikit sesal untukmu

Aku diam, sementara Kau tabur burung-burung camar di atas sore
yang kini telah sunyi..

Depok 2007

--

Ini adalah bagian dari seri puisi-puisi lama yang di tulis sekitar 2007-2008 di Depok, Jawa Barat. 

Rabu, 07 Agustus 2019

Dalam Kata Kita

Dalam api
ada luka

Dalam luka
tersimpan kata

Dalam kata ada kita yang
mengalir seumpama selembar daun yang
terbawa arus sungai timbul tenggelam
diantara suara riak dan
riang tawa batu-batu

Selasa, 06 Agustus 2019

Mei

Jika sore begini, sementara pintu pagar belum lagi terbuka.
Aku merasa ada yang berdesir di dada,
masuk lewat celah-celah waktu
yang saling berhimpit, berdesakan
hingga udara terasa sempit 


Di luar, ada kucing lompat
dari atas pagar
dekat pohon jambu,
di seberang jalan raya 


Ada satpam yang memperhatikan
dari gardu sebelah sana
Ada perempuan berlari
dari ujung gang
Ada cuaca  yang menyimpan hujan
untuk nanti malam


“Halo.. kamu di mana?” 


Cemas terasa makin basah
merembas kedalam rumah
hingga menggenang
ke dalam pikiran

Membayangkan  dirimu nun jauh di sana. 

menengadah di bawah langit
yang makin memerah 

Luka

Dalam setiap gerak, aku ijinkan nafasmu 
menghempas dalam aliran darah ku

Dalam diam, aku ijinkan bibir mu
mematik pikiran ku berkelana

Tapi tidak

Dalam perih, aku ijinkan luka mu
mengeras dalam mimpi ku