Senin, 23 September 2024
Tukang Mie Tek-Tek
Rabu, 01 Mei 2024
Jalan Memutar
Kita pasrah saja ketika jalan mendadak ngambek,
meminta kita memutar arah.
Katanya: "Di depan sudah tidak ada lagi tikungan, tidak juga persimpangan, tidak ada lagi cara untuk kembali ke tempat asal, harap sabar"
Suasana tercabik-cabik, matahari menghilang.
Kita telah tersesat..
2024
Selasa, 11 Agustus 2020
Kering
Aku ingin cerita tentang ini dan itu
Senin, 10 Agustus 2020
Mari berpacaran di kuburan
Entah karena peduli apa hingga aku menghadiahkan kau seikat malaikat maut dalam buket kafan terbaik.
Kau menciumku dalam keabadian ketika hari itu kuberikan hadiah itu (berikut juga hujan yang lupa untuk berhenti)
Tanpa peduli, kita berpacaran di kuburan bersama bunga kamboja dengan iringan tahlil dan air mata yang menguap di tanah merah.
Kranggan, Pondok Gede. 2008
Bicara tentang cinta yang tanggung
Karena tanggung,
maka aku merasakan jika kabut sering kali turun diantara jarak nafas ku dan nafas mu
Kamu berkata dengan kalimat tak selesai, aku menjawab dengan tergesa-gesa
Karena tanggung,
maka udara sering kali menjadi gas asing yang menghalangi diantara auramu aura ku
Kenapa harus begitu?
Semenjak aku bercerita tentang senja dan sore
dan terselip gerimis, aku berpaling dari nyawa dan kata-kata yang
terbatas artinya.
Meledak perasaan di dada..
Karena tanggung, suara ku sedikit tertahan setiap kali wajah mu dan wajah kita berpandang..
Depok, 2008
Menangisi Diri
Bagaimana caranya aku begitu lupa ketika hari itu
aku menemukan sedikit nada di telingaku yang telah lama
mendengarkan bingar mereka
Bagaimana pula caranya tiba-tiba itu melesat begitu saja
sehingga aku benar-benar yakin
bahwa tangis hanyalah bagi yang mencintai kenangan
Aku membusungkan dada di hadapan sore yang terbenam
sementara di tengkuk ku tergores riak yang diam-diam
berkata:
Jika ini sakit, kau sudah rasa segala nikmat, namun kau alpa
hingga yang berkuasa menurunkan sedikit sesal untukmu
Aku diam, sementara Kau tabur burung-burung camar di atas sore
yang kini telah sunyi..
Rabu, 07 Agustus 2019
Dalam Kata Kita
ada luka
Dalam luka
tersimpan kata
Dalam kata ada kita yang
mengalir seumpama selembar daun yang
terbawa arus sungai timbul tenggelam
diantara suara riak dan
riang tawa batu-batu
Selasa, 06 Agustus 2019
Mei
Aku merasa ada yang berdesir di dada,
masuk lewat celah-celah waktu
yang saling berhimpit, berdesakan
hingga udara terasa sempit
Di luar, ada kucing lompat
dari atas pagar
dekat pohon jambu,
di seberang jalan raya
Ada satpam yang memperhatikan
dari gardu sebelah sana
Ada perempuan berlari
dari ujung gang
Ada cuaca yang menyimpan hujan
untuk nanti malam
“Halo.. kamu di mana?”
Cemas terasa makin basah
merembas kedalam rumah
hingga menggenang
ke dalam pikiran
Membayangkan dirimu nun jauh di sana.
menengadah di bawah langit
yang makin memerah
Luka
Senin, 17 Juni 2019
Pesulap
Aku ingin kau menjadi bulan november yang lengket merekat pada ingatanku tentang jalan berbatu menanjak mengitari bukit menuju rumah tempat kita mulai lagi menghitung kata dan menyaring makna. Percakapan kita tanpa suara, busana kita tanpa sutra.
2/
Jantung kita berdetak bersahut-sahutan dengan nyanyian api, tarian serangga, dan gendang bongkahan batu. Semua merayakan, mempertegas kesunyian. Khusyuk di telan puisi.
3/
Kata-kata berserakan di sepanjang jalan yang berliku seperti cerita yang tak selesai perihal cuaca yang terlunta-lunta mengajarkan kita memahami kedalaman udara. Bahasa angin dan paras bunga-bunga.
Singapura
2019
