Kamis, 05 Mei 2016

"

Mengapit kalimat di sebuah
sajak sederhana untukmu,
berdua saja berdekatan
saling memeluk
tanpa berkata.

Seminyak - Singapore 2010 - 2016


Jumat, 04 Maret 2016

Ruang Hati

"dengan meja makan yang bundar"

Kau selalu terobsesi menjadi seorang pemain biola.
Senang menggesek senarnya, perilaku yang menyimpulkan kau ingin mengerat leher ku sejak lama. Kau ajukan juga partitur itu, Op 3 gubahan Vivaladi tepat ketika aku selesai makan malam. Katamu, "Biarkan aku sekali saja memainkannya, setelah itu kau kubolehkan perkosa aku, tenang saja kali ini aku tak meronta"

Kau memulainya dengan membersihkan selungsainya terlebih dahulu, kemudian mengucapkan sedikit doa. Purnama di luar merenggang ketika nada pertama kau mainkan. Aku merekah, luruh luluh lantak. Di bawah ruang lampu bohlam susu, aku menjadi kayu yang terbakar api, soneta itu terus kau mainkan, kau erat, kau kerat, patah..

(kini kau selalu terbobsesi menjadi seorang pemain biola.Senang menggesek dada ku. Mengencangkan urat nadi ku. Lalu meletakannya di antara rahang dan pundak mu.  Sebuah perilaku menyimpang yang menyadarkan ku bahwa kau mencintai ku..)

Lembab

Hujan mengibas-ngibaskan basahnya di rambut mu
suatu sore, ketika kau berjalan ke arah utara.
Menoleh pada ku sesaat 
seperti mengingat sesuatu yang lampau,
jalan setapak
di antara cemara
di telapak tangan mu
menyimpan takut ku
bahwa apa yang aku pahami
tak akan pernah mampu 
membawa mu 
berhenti 
(daun-daun yang ringan
jatuh perlahan)

2011  -  2016


Minggu, 28 Februari 2016

Sajak Pada Sebuah Bar

langit muram, kau menari di bawah malam.
Melepaskan perasaan dengan
tarian yang mengundang
ular melilit
tubuh mu,
menjulurkan
lidah membius

mimpi ku tentang
perempuan dalam
remang kabut yang
muncul dari senyap

berkepanjangan.
Kamu. Mungkin.
adalah mimpi itu.
Siapa tahu

Selasa, 23 Februari 2016

Kereta dalam perjalanan ke Yogyakarta

apakah kau adalah gelombang?
Kota-kota tertinggal di belakang,
jalanan basah, kau kuyup
dan aku tersirap di sebelah mu.
Menggenggam jarimu sepanjang
perjalanan. Percakapan terpendam
dalam deru laju suara kereta.

Setelah stasiun menyambut kita.
Kau melambai seakan inilah
pertemuan terakhir.

Seolah musim bertanya
Kapan kau kembali?

2016

Sabtu, 05 Desember 2015

Astronom

Seorang laki-laki menemukan mu bercahaya dalam gerak yang tiba-tiba melambat di tengah-tengah ruang sepi yang panjang. Ia memandang mu berbeda diantara jutaan denyut cahaya lainnya. Dari spektrum gelombang yang lirih kau menghantarkan sandi-sandi yang hanya dapat dia pahami sebagian isyarat tentang dirimu dari ruang redup itu. Pendar cahaya kebiruan itu sepakat untuk untuk membuatnya mencintaimu.

Ia mencatat mu dengan khidmat, dicarinya nama-nama indah dari kamus-kamus tua. Laki-laki itu mencatat setiap gerak mu dengan angka-angka dan rumus-rumus rumit. Menghayati masa lalu mu, menyusun masa depan mu.

Dia, laki-laki berkacamata itu memandangmu dari balik jendela kamarnya.
Ia merasa pernah menemukanmu.
Jauh di masa lalu.

Kamis, 12 November 2015

02:39 PM

Mungkin aku memang tak pernah bisa melipat selimut dan seprai yang menyimpan bau tubuh mu. Sebab rindu seringkali datang memeluk ku setiap malam hingga merasuk ke tulang-tulang. Membuat ku mendengar tetes air, denting gelas, ketukan gerimis di atap teras seperti notasi irama yang merenovasi luka. Menutup kembali retak yang makin terbuka, celah gelap yang seringkali menjadi koloni semut yang mencuri senyum manis itu dari wajah mu. Membawanya ke sarang tempat sedih dilahirkan dari jutaan titik air yang pecahnya terasa menusuk rongga dan malam ini tak ada satu pun dinding dan jendela yang sanggup menahan udara yang begitu pekat di penuhi rindu yang terbakar.

Mampang Prapatan,
Jakarta


Kamis, 08 Oktober 2015

Kemarau yang Marah

Hujan pertama turun memadamkan nyala api
seperti bibir mu yang merah
         : aku teringat senja yang membara di jendela-jendela kaca

Aku mencintaimu hingga menjelma kobar,
membakar rindu, membuat ku hangus
hingga ke jantung

Melahirkan kabut yang menutupi mata
hati dan pesan singkat mu
yang ku catat sebagai sajak:

            Bahwa jatuh dan cinta 
            adalah dua sakit yang berbeda

perih ku menguap pada akhir kemarau,
kekeringan segala
hingga kita tak memiliki air mata
untuk menutup tirai dan jendela

kau kini,
adalah awan yang menggantung
bergulung di cakrawala


Pondok Ranji, 15

Senin, 31 Agustus 2015

Sebab kita tak pernah tau kapan kamu berhenti menjelma menjadi cuaca

1.
KITA adalah residu rindu yang berterbangan di udara ketika cuaca nampak seperti dirimu yang seringkali mengubah dirinya. Kita bukanlah sepasang sepatu seperti dalam lirik lagu milik mu yang menetes dari pengeras suara yang aku dengar diantara suara mu yang menghilang, sebab kata hati sering kali terlalu lirih untuk di dengar bukan? Katamu suatu kali pada tepi pantai yang kekuningan.

Mungkin sebab itu kau merasa perlu memisahkan dirimu dengan nyala api yang melelehkan tubuh kita menjadi satu. Mungkin kau adalah ruang kosong berisi gaung dari rindu, memantul dari setiap sisi perasaan yang penuh luka. Mungkin sebab itu kita sebetulnya adalah sepasang ragu yang berjalan tanpa alas, meninggalkan sepasang sepatu di belakang dan bertelanjanglah pada jalanan yang terjal.

2.
AKU.
Mungkin adalah residu dirimu yang tersisa.

Minggu, 07 Juni 2015

Suatu Cara untuk Membangun Perahu

1/
KAMU adalah langit tanpa warna biru, hujan tanpa aba-aba,
awan tanpa anak-anak yang membayangkan bentuk-bentuk,
Kamu turun dari laut dan membangun rumah dari pasir untuk kita
dengan jendela besar menghandap senja. Membingkainya dalam pas foto
dan kau selipkan di kantung jins ku pada suatu sore yang malang.

2/
PERASAAN bercampur ombak pecah di meja makan.
Aku memunguti serpihannya bertahun-tahun,
mencoba menyusun kembali dengan lirik lagu pop
yang dinyanyikan dari setiap tikungan, ujung-ujung gang,
lobi hotel, galeri lukisan hingga panggung-panggung drama.
Aku masuki setiap studio foto yang membingkai masa depan
dengan janji-janji pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan,
dan jalan-jalan mulus yang dibangun dari rasa rindu.

3/
HINGGA setiap kilometer tertulis seperti sajak yang dibuat
dari kumpulan kata yang aku susun seolah-olah
wajahmu turun dari awan-awan tinggi itu,
mengecup hidungku dan berbisik
Belajarlah untuk membangun layar diatas perasaan,
biarkanlah takdir berhembus dan membawa mu ke tempat-tempat
yang asing, lalu temuilah aku ketika musim layang-layang,
saat setiap kecemasan dibumbungkan ke langit.

Saat doa mu berhenti mencari ku.

Pondok Ranji 2015



Belajar Menulis

KAU selalu menyusun huruf demi huruf pada lembaran perasaan,
menghapusnya ketika ia bermakna sesuatu yang mengingatkan mu
dengan suara yang sangat kau kenal.


Kau bahkan ingin mengulang kembali sajak ini dengan
kata yang romantis, dengan hujan dan
jembatan, juga senja dan jeritan bunga-bunga.


KUMPULAN rindu yang mabuk ketika kita
berjalan di lorong-lorong kota, diantara
parahnya perasaan cinta kita. Bahwa saat itu
kita sadar untuk kembali menjadi penyair,
kita harus kembali belajar menulis.


Mengulang rindu dan menyusun takdir
yang sepotong-sepotong, merapikan setiap
adegan perselisihan, bercinta di kata pengantar
dan saling berpelukan di halaman belakang.


KAU memutuskan untuk menutup buku
dan beranjak dari kursimu. 
Menutup jendela dan menyusun meja.
Meletakan buku mu diantara aku dan rindu yang
kau selipkan di laci mu

Pondok Ranji 2015