Senin, 23 September 2024

Tukang Mie Tek-Tek

Gerobak itu di dorongnya dengan khusuk. 
Di sebuah jalan yang menanjak ia sambut derita itu sambil membaca basmalah kepada pemilik semesta yang menggodanya dengan derik jangkrik dan suara-suara gaib menggema dari roh-roh pohon cemara.

Sambil menarik nafasnya yang melayang,
ia dengar doa-doa para leluhur menjulur turun dari langit:

"O para priayayi sunyi yang santun, 
lantukan lah lagu tentang pendar purnama 
yang memancar menerangi tepian hutan.." 

"O batu pualam yang tenang,
biarkan aku duduk di sisi para wali, 
dikelilingi sukma cahaya.. berkasur raga"

Di jalan setapak itu, di langkahnya yang gemetar,
semesta bersujud di bawah kakinya

2024



Jarak Rasa

Kita adalah sepasang yang berubah ubah, 
dari warna kuning ke biru, lalu kelabu ke magenta. 
Kadang menggelepar lalu membusuk, tenang kemudian berdebar. 
Dari cinta kemudian jatuh, benci lalu kita duduk, membaca nafas masing-masing hingga musim kemarau datang membawa rasa panas, rasa laut, 
rasa asing yang tertunda karena di hadang cita-cita dan sia-sia. 

Mari kita hitung sepi yang tersisa pada riuh jalan ini, 
jalan yang berdenyut dalam pecahan kaca spion,
di sana kita saksikan langit berkobar seperti dendam. 

Dada senja terbelah. Remuk. Hancur berserakan.

Apakah keindahan hanya tersusun dari keheningan?
Kekhusyukan dalam sulur-sulur cahaya yang kekal? 

Disanalah cinta dan maut bertemu, 
di ujung senja yang telanjang 
di kota yang tak pernah henti-hentinya membongkar dirimu. 

--

2018