Selasa, 14 Maret 2017
Apartemen No. 519
Kau bertanya, bagian mana tubuhku yang ingin kau cium? Sungguh, aku ingin setiap senja mati di bingkai jendela, agar cahayanya jatuh ke punggung mu dan aku bisa tidur di sana bermimpi tentang dunia tanpa ingatan
Kamis, 02 Maret 2017
Catatan dengan sebuah nama
Bagaimana aku tau dirimu yang
tertulis di selembar catatan kecil ;
hanya sebuah nama
tanpa tanda
Dua gelas kopi panas
satu untuk mu dan satu untuk ku
agar kita bisa berbincang sampai larut,
sambil aku membayangkan
wajahmu adalah segumpal
awan merah muda
mungkin awan yang manis;
karena warnanya mirip
dengan gula gula
Gula gula yang kau minta dari aku
di pesta malam,
setelah purnama ke delapan
Senyum mu mengembang
lalu berputar putar di kepala;
Coba engkau hitung berapa jerawatku?
Aku suka caramu bertanya, caramu tersenyum,
caramu menggoda, juga caramu melingkarkan lengan
yang membuat udara bergetar.
Membuat fajar nampak perawan, meski yang terlihat
adalah tujuh jerawat di wajahmu.
Jerawat yang seperti titik bintang
yang menjadi arah perjalanan
ke kotamu.
Setiap kali aku menelusuri tikungan
dan barisan tiang-tiang yang basah.
Di balik kaca jendela yang buram
oleh ribuan kenangan
berdesak desakan
Hanya untuk mengantarkan sebuah doa
ke balik selimut mu :
Ketika gerimis berhamburan, kita tidak bergegas,
Ketika jarak menjadi bias,
aku tak mengaduh.
Namun aku selalu berjanji
dalam hati:
Saat nanti kita bertemu lagi, saat rindu sudah jadi bintang yang redup,
saat lubuk-lubuk kesepian telah penuh.
Aku akan mengatakan padamu;
"hati hatilah dengan senyummu, dengan tujuh
rupa jerawatmu, dengan gula gula manis
serupa rambutmu..
Karena hanya dengan itu,
akan ada seorang pria yang mencatat mu
di sebuah catatan kecil..
Catatan dengan hanya sebuah nama tanpa tanda
Rabu, 22 Februari 2017
Cerita dari Sebuah Kafe
Di kafe ini ada suara mu yang mengendap di kipas angin
yang berputar perlahan lahan
lalu dihembuskan ke setiap sudut ruangan
ke tempat sepi sepi bersembunyi.
Menggenangi lantai yang bertabur detik detik, menguap pelan pelan
membentuk menit menit kemudian berulang
menjadi detak jam yang nanar.
Kadang kecantikanmu melekat luruh di atas panggung,
bersama mikrofon hitam yang berdiri sendirian
disoroti sinar lampu kuning tanpa
tanpa ada suara dan gerak tarianmu
gerak pinggulmu yang mengingatkan ku pada
tikungan dan warung makan, di mana sunyi di hadirkan
bersama kopi kental yang sehitam rindu.
Kerinduan yang tumpah meluber di simpang lampu merah,
saat aku memintamu bernyanyi tembang yang kau selesaikan semalam,
"Mengapa aku tak boleh jatuh cinta..?" hanya kau yang bisa jawab.
Hanya waktu yang tau caranya menjawab.
2/
Aku temukan wangi tubuhmu di sela sela hujan yang tak pernah reda.
Mengerti bahwa kau bisa saja terjebak di sana,
dengan tahi lalat di sudut bibir serta bulu mata yang melengkung seperti busur.
Mendadak kerudungmu telah melingkar di leherku, melingkar dengan lembut
mengajak aku menari di atas panggung.
Menjadi teman di pentas mu yang gemerlap. Aku menyukai selera yang kau pilih, warna ikat pinggang,
manik manik merah, gelang perak. Kuning hijau biru, semua melekat dengan wajar.
Apa yang harus aku katakan? Sungguh aku ingin menikmatimu dari sudut-susut kesepian,
merekam semua yang lewat, menulis sajak tentang rindu yang mengalun pelan pelan.
3/
Dengan bintik bintik getir, aku merangkai susunan kalimat dari matamu yang bergetar setiap kali kau bicara,
ketika cinta itu ku bawakan juga. Lengan mu kau kibarkan
melenggang menghantar pesan ke hatiku yang rawan.
Teruslah menggoda, teruslah mengisi setiap dada laki laki yang memar.
Sampai setiap nyala telah dipadamkan. Sampai tak ada lagi sorot mata yang menawan,
hanya suara parau yang mengiringi, saat kau merendahkan bajumu.
"Aku ingin menjadi ibu.."
bisikmu ketika rindu mekar di jalanan.
4/
Sore ini aku kembali ke restoran,
menyusun setiap titik kenangan menjadi garis garis yang saling bertautan.
Ada suara piano terdengar dari seberang meja.
Entah siapa mereka yang tanpa sengaja mengirim luka itu ke mari.
Kesedihan bercecer hingga ke lantai, aku bongkar luka
kutemukan ladang terbakar dan gurun pasir yang menganga.
Dan kau belum datang juga,
atau kau memang tak akan pernah datang..
Senin, 06 Februari 2017
Musim Panjang di Teras Rumah
Selasa, 24 Januari 2017
Di Antara Batas
sepi menyambar
kering
mengkerut
menyisakan abu
pekat
ringan
di titik lelah
antara puncak menara kabut
dan bohlam
susu
yang menyala
di lingkar dadamu
juga rembang madu alis
yang seharum pandan
sepanjang
sungai sungai
ketika ku susuri
bidang batas
matamu
Bagaimana menyampaikan
rindu
lewat pesan singkat
bagaimana mengikat
pilu
dengan cepat
bagaimana memadamkan
sepi yang menyambar
ranting ranting
kering itu?
Jika telaga telah punah
Jika hati ku sudah musnah
sanur 2010
Rabu, 07 Desember 2016
Semua cemasku adalah sebuah pertanyaan mengapa hari ini hujan turun begitu gelisah
Jumat, 04 November 2016
Jakarta 18:00
Gerimis datang ke teras rumah tanpa kabar. Membawa sore menguning berguguran di garasi kita. Di langit adzan memecah mega-mega, huru hara lagi kata mu. Televisi menyala tanpa suara, membiarkan sunyi merayap di dinding dan memantul ke segala penjuru arah. Seorang demonstran berorasi di atas mimbar, matanya membakar orang-orang yang marah. Sudah jam enam, gelas kopi sudah dingin, senja mulai membereskan dirinya untuk bersiap berganti dengan malam. Kau masih membaca buku itu di suatu sudut ruangan, menatap ku sebentar lalu kembali membalik lembar-lembar puisi. Sajak tak bisa membubarkan demonstran, katamu suatu kali saat kita melintas di jalan Sudirman, sebab sajak hanya mampu berbicara kepada mereka yang meraung dalam ruang hati yang terbuka.
Selasa, 30 Agustus 2016
Sore di Cook Street
Dalam temaram lampu jalan kau lihat bintang mulai bercahaya. Bulan mulai terbit. Telepon itu tidak juga berbunyi, tidak akan pernah katamu.
Kau membaca sebuah sajak singkat yang pernah kau tulis
di suatu pulau yang jauh:
Senin, 22 Agustus 2016
Menulis Sajak
menjauh
meninggalkan kota ini. Aku.
Juga bau hujan siang tadi,
menguap
ke udara yang kini terasa asing.
Memenuhi pikiran ku dengan
kenangan kenangan
yang tak sempat menjadi impian.
Senja yang rawan, senja yang kesepian.
Lampu-lampu jalanan menyala, tetangga
mulai kembali pulang, berita telah
habis di tivi dan koran pagi telah
jadi alas untuk tidur.
kini malam telah turun
Di jakarta.
Di sudut bar yang paling
gelap, di dasar gelas yang paling
dalam, aku terasing menulis sajak
untukmu.
Singapore 2016
Sabtu, 25 Juni 2016
Kenari Menari Tarian Bakung
di halaman tempat ia mencatat hujan yang turun tidak sengaja setelah
melihatnya meninggalkan teritikan anak tangga.
Bergegas mencari batas antara bayang-bayang,
dedaunan, dan suara baling-baling yang
melintas di benaknya tiba-tiba:
Siut burung Kenari!
Ia menoleh padaku.
Kau pandangi langit itu,
wajahnya masih berduka, masih penuh debur ombak.
Masih yang sama ketika dulu
pernah kau rasakan sebaris manis luka yang teriris tipis
menghempas sisa-sisa yang masih ada ke sehampar karang.
Burung Kenari yang telah lama tak bernyanyi..
Bali - Singapore
2016
Sabtu, 07 Mei 2016
Radiasi
Jika saja aku bisa membawa mu naik kuda meluncur dari matahari terbit, padang gurun kering, berdebu. Melekat dalam pikiran ku rambut mu yang terbawa angin perlahan lahan, diam diam saja, tanpa drama. Sementara itu kita berbincang tentang elang dan jejak bintang tanpa nama. Gerhana matahari dan batara yuda pemangsa cahaya.
Sebab tak ada yang lebih menyenangkan dari bercanda tanpa filosofi. Titik temu dan pendapat pendapat yang kadang di petik dari potongan buku yang kita baca. Silang pendapat kita padamkan, toh dirimu sendiri adalah objek semesta yang menimbulkan gravitasi.
Berputar pada porosnya. Seketika semesta ikut bahagia bersama mu.
Amin YRA