1. HALAMAN
Selalu ada yang kemudian menyisakan rindu di meja makan.
Sebab cangkir tak sanggup menampung perasaan itu ketika kau tuang dari dalam dada.
Aku tak pernah tau apa makanan kesukaan mu selain sayur asam dengan belimbing.
Buah dari pohon yang selalu menyapa mu ketika kau pulang, pohon yang meneduhkan halaman kita.
Halaman yang kau rawat dengan hati-hati,
Jika nanti tumbuhan-tumbuhan itu datang ke dalam mimpi mu
Aku ingin engkau tetap merawatnya seperti aku merawat mereka..
2. TANAH MERAH
Berapakah jumlah bunga yang harus aku siapkan untuk menemui mu?
Berapakah jumlah rindu yang harus aku tuang dalam cangkir itu?
Kini tak pernah ada sisa rindu di meja makan, tidak juga pada tumbuhan-tumbuhan itu.
Halaman kita masih aku rawat, beberapa anggrek mulai menguning.
Jika nanti kau datang ke tumbuhan-tumbuhan itu
Aku ingin engkau merawat aku seperti kau merawat mereka..
3. RUANG TENGAH
Pohon belimbing kita kini mulai meranggas, aku tak pernah suka buahnya.
Tetangga kita sering datang sekedar bertanya, tapi mereka juga tak pernah meminta buahnya.
Aku merasa pohon belimbing itu kini mulai bertanya-tanya,
engkau di mana?
Jakarta 2013
Selasa, 26 Februari 2013
Jumat, 08 Februari 2013
Sandal
AKU tidak tau apa yang ibu pikirkan ketika sandal kiri ayah terbawa arus banjir
ketika jakarta sedang kuyup dan airnya meluap hingga ke halaman rumah.
Ketika aku lihat ia memandangnya dari teras dengan mengucapkan semacam puisi
atau kalimat perpisahan yang tak mampu aku tangkap, sebab suara ricik air bergemuruh begitu hebat
hingga menggema ke dalam pikiran-pikiran ku:
Tentang sepasang sendal yang kini salah satunya mulai terpisah.
Sandal yang kini sendirian di sudut lantai teras yang dingin,
dan mungkin juga berharap ikut tenggelam bersama
arus air yang kini semakin deras.
2013
ketika jakarta sedang kuyup dan airnya meluap hingga ke halaman rumah.
Ketika aku lihat ia memandangnya dari teras dengan mengucapkan semacam puisi
atau kalimat perpisahan yang tak mampu aku tangkap, sebab suara ricik air bergemuruh begitu hebat
hingga menggema ke dalam pikiran-pikiran ku:
Tentang sepasang sendal yang kini salah satunya mulai terpisah.
Sandal yang kini sendirian di sudut lantai teras yang dingin,
dan mungkin juga berharap ikut tenggelam bersama
arus air yang kini semakin deras.
2013
Minggu, 27 Januari 2013
Dermaga
Saya sering membayangkan dirimu adalah sebuah dermaga,
dengan semburat langit warna jingga dan suara-suara burung pantai yang ingin pulang.
dengan perahu-perahu kayu yang di tambatkan di tiang-tiang yang lapuk.
Dengan riak-riak kecilnya yang menabrak dinding-dinding busur perahu,
tak terasa namun sanggup membuat mereka yang tak awas
lalu tergelincir jatuh ke dalam laut mu. Dada mu.
Saya juga membayangkan perahu-perahu itu menaruh rindunya di dermaga
ketika merelakan jangkarnya jatuh di bibir mu. Menaruh tanda yang halus
agar perahu itu akan kembali lagi. Seperti sebuah janji yang harus di tepati.
Dermaga juga adalah tempat untuk berlabuh bukan?
tempat perahu bersandar dari liarnya laut, dari petulangan yang jauh
dari ombak yang mengombang-ambingkan anjungan perahu, dari angin yang mampu
merobek layar, menghantam buritan, hingga kemudian pasrah, lalu berharap badai
segera sirna. Lalu kembali menemukan riak-riak kecil itu
pada semburat langit warna jingga
dan suara-suara burung pantai yang ingin pulang
Namun,
Dermaga tanpa perahu hanyalah sebuah deretan tiang-tiang yang lapuk
dengan jembatan kayu yang berderit ketika aku menemukan mu menjelma
menjadi ombak di ujung karang
Banten 2013
Senin, 14 Januari 2013
Cangkir
Selembar kertas itu kau bolak-balik, mungkin kau mencari sesuatu di sana. Mungkin ada aku yang kau letakan sembarangan di antara halaman 38 sampai 79. Kau ambil lagi kopi mu; Ah aku suka cara mu mengangkat cangkir itu lalu meletakan di bilah bibir mu. Ah aku ingin menjadi cangkir itu agar kedua bibir kita saling bertemu setiap kali kau membaca buku sajak itu.
Seminyak 2010
Seminyak 2010
Jumat, 11 Januari 2013
Januari Awal
Bagaimana caranya menulis sajak
saat perasaan seperti gurun
dengan gunung-gunung pasir
yang bergerak kesana kemari
kaktus dan kamboja
pemberianmu
masih juga kurawat
seperti dulu saat kau menyusun
hujan dan cuaca di halaman
Aku bahkan masih merangkai
burung-burung dari kertas warna warni
agar bisa mengingatkan ku
tentang kau yang selalu
merangkai gerimis
dengan
rindu
wangi
tanah basah
dan ranting ranting
kering yang patah
lalu kau gantung
di teritikan jendela kamar;
dengan benang yang kau pungut
dari sebuah sajak
**
Ranjang, bohlam juga gantungan kunci
yang tak bergeming
adalah penanda
aku tak pernah
bisa melepas engkau
pergi
bagaimana bisa aku melupakan
sepi
sementara sepatu, parfum dan gelas mu
masih tertinggal di tempat
semula
Menyisakan duka yang terus menerus
dilepaskan ke udara,
kemudian aku hirup perlahan lahan
setiap hari
Menghebuskannya dan berakhir
pada duka yang lainnya
**
Bagaimana aku bisa mengusap bersih
nafasmu
jika senyum mu masih tersisa
di bibir gelas
Menyentuh jari jari ku setiap kali
aku membersihkannya
dari sisa kopi yang tak habis
Menyisakan luka yang kembali
terbuka, berulang ulang
seperti dengung kulkas
yang tak pernah berhenti
**
Aku menyusun kembali bentuk tubuhmu
setiap pagi
di depan jendela,
di depan pintu yang setengah terbuka,
di dadaku yang terluka.
Aku menabur kembali pori pori mu
di halaman depan,
di teras dan beranda,
agar mereka kembali
menemukan jejak sepatumu
agar bisa aku susuri lagi
jalan menuju ke pusara mu
sanur-seminyak 2010 - 2013
saat perasaan seperti gurun
dengan gunung-gunung pasir
yang bergerak kesana kemari
kaktus dan kamboja
pemberianmu
masih juga kurawat
seperti dulu saat kau menyusun
hujan dan cuaca di halaman
Aku bahkan masih merangkai
burung-burung dari kertas warna warni
agar bisa mengingatkan ku
tentang kau yang selalu
merangkai gerimis
dengan
rindu
wangi
tanah basah
dan ranting ranting
kering yang patah
lalu kau gantung
di teritikan jendela kamar;
dengan benang yang kau pungut
dari sebuah sajak
**
Ranjang, bohlam juga gantungan kunci
yang tak bergeming
adalah penanda
aku tak pernah
bisa melepas engkau
pergi
bagaimana bisa aku melupakan
sepi
sementara sepatu, parfum dan gelas mu
masih tertinggal di tempat
semula
Menyisakan duka yang terus menerus
dilepaskan ke udara,
kemudian aku hirup perlahan lahan
setiap hari
Menghebuskannya dan berakhir
pada duka yang lainnya
**
Bagaimana aku bisa mengusap bersih
nafasmu
jika senyum mu masih tersisa
di bibir gelas
Menyentuh jari jari ku setiap kali
aku membersihkannya
dari sisa kopi yang tak habis
Menyisakan luka yang kembali
terbuka, berulang ulang
seperti dengung kulkas
yang tak pernah berhenti
**
Aku menyusun kembali bentuk tubuhmu
setiap pagi
di depan jendela,
di depan pintu yang setengah terbuka,
di dadaku yang terluka.
Aku menabur kembali pori pori mu
di halaman depan,
di teras dan beranda,
agar mereka kembali
menemukan jejak sepatumu
agar bisa aku susuri lagi
jalan menuju ke pusara mu
sanur-seminyak 2010 - 2013
Rabu, 02 Januari 2013
Flu
1/
KAU tak pernah mencintai hujan, juga rindu.
yang nampak seperti penyakit yang selalu datang setiap musim hujan,
setan kecil yang membelah dirinya menjadi berjuta-juta
lalu memeluk mu begitu erat hingga memaksa kau untuk tinggal di dalam kamar, menyusun buku-buku atau sekedar menghabiskan tisu.
Rindu yang juga sering turun berderai-derai ketika kau sedang terjebak di halte bus. Menunggu angkutan umum bernomor 42 yang sering mengingatkan mu
dengan sebuah alamat yang tercecer dalam ingatan.
2/
RINDU juga adalah virus yang diam-diam bersemayam dalam tubuh mu
saat kau lupa meluangkan waktu untuk tidur. Hanya karena menunggu balasan pesan singkat yang kau kirim dengan sebuah harapan kecil,
seperti tablet yang warnanya merah muda.
Tablet yang pernah kau lihat di televisi yang berjanji pada mu mampu
meredakan rindu yang tak berkesudahan.
Meskipun hati kecil mu menjerit ketika kau menelannya..
2013
KAU tak pernah mencintai hujan, juga rindu.
yang nampak seperti penyakit yang selalu datang setiap musim hujan,
setan kecil yang membelah dirinya menjadi berjuta-juta
lalu memeluk mu begitu erat hingga memaksa kau untuk tinggal di dalam kamar, menyusun buku-buku atau sekedar menghabiskan tisu.
Rindu yang juga sering turun berderai-derai ketika kau sedang terjebak di halte bus. Menunggu angkutan umum bernomor 42 yang sering mengingatkan mu
dengan sebuah alamat yang tercecer dalam ingatan.
2/
RINDU juga adalah virus yang diam-diam bersemayam dalam tubuh mu
saat kau lupa meluangkan waktu untuk tidur. Hanya karena menunggu balasan pesan singkat yang kau kirim dengan sebuah harapan kecil,
seperti tablet yang warnanya merah muda.
Tablet yang pernah kau lihat di televisi yang berjanji pada mu mampu
meredakan rindu yang tak berkesudahan.
Meskipun hati kecil mu menjerit ketika kau menelannya..
2013
Jumat, 28 Desember 2012
Sajak yang lahir di musim kemarau
Waktu sore kita bersama-sama berjalan melewati ladang yang gersang
sementara kemarau turun ke bulu-bulu mata dari puncak-puncak cemara
Cahaya matahari berseteru pada alang-alang pada suara-suara ranting yang patah
pada jerit-jerit bunga.. pada kalimat-kalimat yang terbawa angin.
Maka waktu kita berjalan,
ada yang diam-diam
menunggu kita di sana
sementara kemarau turun ke bulu-bulu mata dari puncak-puncak cemara
Cahaya matahari berseteru pada alang-alang pada suara-suara ranting yang patah
pada jerit-jerit bunga.. pada kalimat-kalimat yang terbawa angin.
Maka waktu kita berjalan,
ada yang diam-diam
menunggu kita di sana
Jumat, 21 Desember 2012
Empat alasan saya benci bulan Desember
1/
Saya benci bulan Desember yang selalu datang dengan basah dan tidak pernah surut.
Desember yang rindunya meluap hingga semata kaki,
Ketika saya terpaksa harus berlari sepanjang trotoar menerjang hujan yang rintih-rintih
hanya agar segera sampai di rumah untuk mencari hangat mu di seberang telepon.
2/
Saya benci bulan Desember yang serupa pohon cemara yang kuyu,
yang retak dahannya menahan embun agar tak lekas lepas dari tepinya
Embun yang tak perlu berwarna untuk membuat daun jatuh cinta.
3/
Saya benci bulan Desember yang mengingatkan tentang cangkir mu yang
kau tinggal di rumah ini. Cangkir keramik bergambar bunga warna-warni,
cangkir yang kita beli setahun lalu, cangkir yang menahan setiap retak kisah
yang lahir di sini.
4/
Saya benci bulan Desember ketika para tetangga merayakan tahun baru,
ketika kembang api dan petasan berpendar lalu meletus di angkasa
ketika saya sadar ternyata letupan itu juga terasa hingga
jauh di dalam dada..
21 Desember 2012
Jakarta
Rabu, 12 Desember 2012
Suatu pagi aku melihat mu memasuki pagar rumah
Angin pengarak pagi terdampar di depan kamar ku
pada hari minggu ketiga setelah akhir November.
Siut bubungnya mengajak aku turun ranjang
dan melompat ke halaman. Menyerahkan diri menjadi
kata-kata dalam sajak yang di ucapkan kelak
ketika suatu saat nanti kamu ingat pada ku.
Waktu nanti, tumpahlah rindu berderai-derai
dari langkah mu yang tergesa-gesa
memasuki halaman rumah. Melompati pengandal
yang aku letakan sebagai penahan pagar
agar tak rebah.
Aku melihat mu membawa jenang putih dalam mangkok
yang terbuat dari daun pisang lalu ditaburi dengan gula merah
yang diiris tipis diatasnya.
Mata mu lekat seperti madu, rambut mu merah
seperti jagung. Senyum mu terasa cecap manis di
ujung bibir..
Pohon mangga menyambut kita dengan gelisah.
Cahaya matahari susut berhambur di sela-sela daunnya.
Sebagian jatuh ke pundak mu hingga nampak bercahaya
bumbung angin hening berhembus.
kita berdua diam dalam
sepi yang menghunus
2012
Senin, 10 Desember 2012
Pohon mangga kita yang meranggas
1/
Pohon mangga kita tidak pernah berbuah lagi.
Semenjak ibu meranggas menjadi
daun-daun kuning yang gugur -Seorang perempuan
yang menyematkan dadanya
menjadi alamat rumah bertahun-tahun.
Menunggu sebuah jantung kembali
ke dalamnya untuk kemudian berdetak
seirama nafas.
Kata ia pada surat yang tak pernah dikirimnya:
Kemana jantung mu berpulang?
Aku semata angin yang membumbung melewati
celah dinding rumah kita yang retak.
Membawa lembab dan dingin ke dalam
tulang-tulang ku.
Mengenang mu sebagai akar tubuhku yang tumbang
terangkat dari kerak pikiran ku.
Ia lipat surat itu perlahan-lahan lalu
Ia remas untuk kemudian diselipkan
ke dalam mimpinya.
2/
Pohon mangga keluarga itu tetap saja tumbuh
dengan daun yang makin sering terlepas dari tangkainya.
Satu per satu setiap sore, setiap kali
hari menutup tanpa ada suara langkah
kaki memasuki halaman.
Aku mengumpulkan daun-daun itu
kemudian membakarnya. Aku menatap
ibu bergetar di teras pintu setiap
kali aku melakukannya.
2011
Kamis, 06 Desember 2012
Jembatan extravaganza di musim hujan yang kadang jadi tempat berteduh sebagian dari kita
Perempuan yang bercumbu dengan musim itu
menjatuhkan juga dirinya di bawah pohon waru yang tumbuh di sela-sela jembatan layang.
Angin yang lewat hanya diam lalu menterjemahkan gerak daun yang gelisah di ranting yang kesepian.
Suara derap langkah kaki mereka seperti hendak menuju ruang kelam,
ada yang merasa kehilangan dan mencari pegangan.
Apalah arti perempuan yang bercumbu dengan musim itu
ketika telah menyala api tidak di mata
tapi di dada -seperti baru membikin sebuah karangan sajak.
Lalu terbakar,
Lihat, lihat! Kita menukar, bersembunyi lalu menikam nasib diri sendiri
yang bersembunyi di belakang lebatnya polusi
kemudian menenggelamkan kepala
kepada ruang kosong
dan segelas kopi starbucks
setiap pagi ketika menyalakan komputer
lalu bersemayam di atas tumpukan angka, inflasi,
kebijakan finansial dan utang luar negeri.
Tak ada alasan untuk bergembira selama masih ada
perempuan yang bercumbu dengan musim.
Mengingatkan ku kepada pisau dan tali
kepada yang sia-sia membuka mata waktu pagi,
menggantungkan dirinya pada pucuk paku di dinding tua.
Maka sebelum janji tuhan turun kepada kita,
binasakanlah napas dan bahasa yang meleleh dari dada
menerbitkan salju pada musim kemarau
seperti jatuh dari mimpi
Slipi 2012
Langganan:
Komentar (Atom)