Ransel yang sudah padat dengan barang barang
juga harapan harapan tergeletak sembarangan
Engkau masih ingin lebih lama lagi di sini,
sekedar semalam saja untuk berbincang di meja makan.
Namun jam dinding berdetak nyaring,
keberangkatan bukan pekerjaan gampang jika perasaan dan pikiran
disayat sayat rindu. Sambil terpejam kau bayangkan lingkar jalan
baris kursi dan jejeran pohon di tepi jalan. Betapa menakutkan
bertarung melawan rindu sendirian
yang banyak pasukannya. Namun masih ada ranjang, kelambu
kasur yang dingin, bantal serta guling. Juga jas hujan yang tergantung.
Ah, meninggalkan bukanlah pekerjaan mudah jika
kangen dan cinta mu masih berserak di perkarangan.
Jika beranda dan detik jam seperti berseteru tentang perasaan.
Ketika waktu sudah habis, kau tidak langsung mengucapkan salam
Tapi menarik napas agar dadamu ringan. Kau menarik nafas panjang.
Sambil membuang kalimat kalimat yang sudah lama kau persiapkan.
Dan ingin babak ini cepat berganti. Kau cari empat puluh lima suku kata
Tapi yang muncul tujuh belas sehingga kalimatmu padat dan singkat.
Akhirnya kau hanya diam dan tersenyum,
Hanya diam dan tersenyum, sambil merindukan waktu untuk pulang.
Tapi akan banyak hal terjadi nanti.
dan kau akan membingkai rindumu dalam pigura,
itulah kenangan yang pernah kau bawa
sambil bergumam merindukan tanah penuh bunga.
sanur 2010
Senin, 29 Oktober 2012
Tentang pikiran pikiran di Pesawat
Pesawat yang mengambang di antar kotamu dan kota itu
di antara udara dan cuaca yang terjebak di ranting ranting pegunungan
dan aku duga sebentar menjatuhkan juga tubuh pesawat
karena tak sengaja tersangkut di salah satu pucuknya,
yang tak henti kemudian berguncang seperti melewati jalan berbatu
yang menampung tubuh ku dan tubuh mu
Lampu-lampu padam kecuali lampu tanda perintah
memasang sabuk pengaman, para pramugari menjadi panik
wajah cantiknya jadi tak menarik
Sejumlah anak kecil menangis, orang orang tua ketir
dan berpegang pada doa, pada lengan lengan Tuhan.
Aku takut dan menghabiskan semua sisa airmata
sebab sungguh tidak tau harus berpegangan di mana
Mana lenganmu? Ulurkan kedua lenganmu!
Maka aku menyembunyikan takut ku dan kedua tangan
ke dalam jarimu yang dangkal dan basah
Aku melihatmu di sana mejaga keseimbangan tubuh
yang juga mungkin tiba tiba limbung
sedang mencari sisi lenganku yang lain untuk berpegangan
Tidak ada yang sanggup aku katakan kecuali ingatan tentang
catatan yang ku tulis sebelum berangkat :
"Tidak ada alasan untuk takut lagi, kau pasti akan tiba
dengan selamat, sebab utuh tubuhmu tertinggal di sini
di tubuhku yang menjaga tabah menunggu selapang padang"
Selepas ku ucapkan itu, tiba tiba terdengar
satu kalimat dari pengeras suara.
beberapa saat lagi pesawat akan mendarat.
sanur 2010
di antara udara dan cuaca yang terjebak di ranting ranting pegunungan
dan aku duga sebentar menjatuhkan juga tubuh pesawat
karena tak sengaja tersangkut di salah satu pucuknya,
yang tak henti kemudian berguncang seperti melewati jalan berbatu
yang menampung tubuh ku dan tubuh mu
Lampu-lampu padam kecuali lampu tanda perintah
memasang sabuk pengaman, para pramugari menjadi panik
wajah cantiknya jadi tak menarik
Sejumlah anak kecil menangis, orang orang tua ketir
dan berpegang pada doa, pada lengan lengan Tuhan.
Aku takut dan menghabiskan semua sisa airmata
sebab sungguh tidak tau harus berpegangan di mana
Mana lenganmu? Ulurkan kedua lenganmu!
Maka aku menyembunyikan takut ku dan kedua tangan
ke dalam jarimu yang dangkal dan basah
Aku melihatmu di sana mejaga keseimbangan tubuh
yang juga mungkin tiba tiba limbung
sedang mencari sisi lenganku yang lain untuk berpegangan
Tidak ada yang sanggup aku katakan kecuali ingatan tentang
catatan yang ku tulis sebelum berangkat :
"Tidak ada alasan untuk takut lagi, kau pasti akan tiba
dengan selamat, sebab utuh tubuhmu tertinggal di sini
di tubuhku yang menjaga tabah menunggu selapang padang"
Selepas ku ucapkan itu, tiba tiba terdengar
satu kalimat dari pengeras suara.
beberapa saat lagi pesawat akan mendarat.
sanur 2010
Kamis, 18 Oktober 2012
Surat Cinta dalam nuansa semiotika
-untuk pernikahan Sisilia dan Eddy
Katakan padaku untuk jangan pernah lari! Meskipun aku tau kamu adalah orang yang benci berlari. Kamu selalu alergi dengan stadion dan taman kota yang menampilkan lingkaran statis yang memaksa kita menelusuri nya. Jangan pernah berlari meski di malam saat kita bercanda melalui diri yang tampil menjadi konsep-konsep abstrak papan ketik dan dua puluh lima menit film biru yang menyuguhkan lintasan lari yang luas dan panjang.
Jangan lari! Jangan membuat dirimu terangah-engah di tengah perjalanan lari mu, lalu membuat indeks tarikan napas mu menjadi begitu sederhana.
Satu dua satu dua satu dua satu dua satu dua satu dua satu dua satu..
Dua,
katakan padaku untuk mencegah mu berlari! Karena kadang kamu adalah orang yang bisa
mengubah sederet panjang kalimat-kalimat dalam buku menjadi ladang luas yang membuat mu ingin
segera berlari. Segera dengan kesegeraan yang luar biasa sehingga wujud mu menjadi bias, fisik mu menjadi semu dan eksistensi mu adalah udara tipis yang tidak dapat aku genggam. Sehingga tiba-tiba saja kau telah berlari hingga ke ujung dunia. "Hei lihat aku di sini!" Katamu dengan senyum bias dan warna tubuh yang makin pudar. Lalu sedikit demi sedikit menghilang dan tenggelam dalam lembar-lembar halaman, terselip diantara kalimat-kalimat pasif yang menjepit mu tanpa ampun. Memenjarakan mu dalam lintasan-lintasan tanpa ujung.
Katakan padaku untuk segera merangkul mu ketika kau mencoba berlari. Katakan dengan bahasa
isyarat yang singkat, tak perlu sms atau mengangkat telepon. Tak perlu berpura-pura menanyakan kabar. Cukup katakan saja "Aku ingin lari sekarang.." Maka sejak itu aku akan menjadi tali sepatu mu yang terlepas sehingga memaksa mu menghentikan langkah mu dan membuat mu menunduk, mengikat ku dengan ringan namun juga tak bebas, menyimpulkan ku dengan keharmonisan yang khidmat layaknya upacara. Membuat ku menjadi lebih lengkap dengan keanggunan yang sederhana, dengan kepastian yang menentramkan. Dengan wajah yang tenang serupa air dalam genangan tangan.
Lalu kau membisikan semacam mantera:
"Kini telah aku ikat kau dengan sempurna. Maka aku ingin kau memahami tiap langkah ku, tiap denyut jantung yang membuat setiap gerakan otot ku menuju satu langkah ke depan, mengiringi ku dalam lintasan yang mungkin akan membuat aku tersesat dalam ketiadaan yang tak terbatas. Memahami ku ketika aku harus berlari untuk kemudian berhenti sejenak. Mencegah ku melanjutkan perjalanan ketika kau mulai terlepas, ketika kau mulai terlepas.."
Sanur 2011
Katakan padaku untuk jangan pernah lari! Meskipun aku tau kamu adalah orang yang benci berlari. Kamu selalu alergi dengan stadion dan taman kota yang menampilkan lingkaran statis yang memaksa kita menelusuri nya. Jangan pernah berlari meski di malam saat kita bercanda melalui diri yang tampil menjadi konsep-konsep abstrak papan ketik dan dua puluh lima menit film biru yang menyuguhkan lintasan lari yang luas dan panjang.
Jangan lari! Jangan membuat dirimu terangah-engah di tengah perjalanan lari mu, lalu membuat indeks tarikan napas mu menjadi begitu sederhana.
Satu dua satu dua satu dua satu dua satu dua satu dua satu dua satu..
Dua,
katakan padaku untuk mencegah mu berlari! Karena kadang kamu adalah orang yang bisa
mengubah sederet panjang kalimat-kalimat dalam buku menjadi ladang luas yang membuat mu ingin
segera berlari. Segera dengan kesegeraan yang luar biasa sehingga wujud mu menjadi bias, fisik mu menjadi semu dan eksistensi mu adalah udara tipis yang tidak dapat aku genggam. Sehingga tiba-tiba saja kau telah berlari hingga ke ujung dunia. "Hei lihat aku di sini!" Katamu dengan senyum bias dan warna tubuh yang makin pudar. Lalu sedikit demi sedikit menghilang dan tenggelam dalam lembar-lembar halaman, terselip diantara kalimat-kalimat pasif yang menjepit mu tanpa ampun. Memenjarakan mu dalam lintasan-lintasan tanpa ujung.
Katakan padaku untuk segera merangkul mu ketika kau mencoba berlari. Katakan dengan bahasa
isyarat yang singkat, tak perlu sms atau mengangkat telepon. Tak perlu berpura-pura menanyakan kabar. Cukup katakan saja "Aku ingin lari sekarang.." Maka sejak itu aku akan menjadi tali sepatu mu yang terlepas sehingga memaksa mu menghentikan langkah mu dan membuat mu menunduk, mengikat ku dengan ringan namun juga tak bebas, menyimpulkan ku dengan keharmonisan yang khidmat layaknya upacara. Membuat ku menjadi lebih lengkap dengan keanggunan yang sederhana, dengan kepastian yang menentramkan. Dengan wajah yang tenang serupa air dalam genangan tangan.
Lalu kau membisikan semacam mantera:
"Kini telah aku ikat kau dengan sempurna. Maka aku ingin kau memahami tiap langkah ku, tiap denyut jantung yang membuat setiap gerakan otot ku menuju satu langkah ke depan, mengiringi ku dalam lintasan yang mungkin akan membuat aku tersesat dalam ketiadaan yang tak terbatas. Memahami ku ketika aku harus berlari untuk kemudian berhenti sejenak. Mencegah ku melanjutkan perjalanan ketika kau mulai terlepas, ketika kau mulai terlepas.."
Sanur 2011
Selasa, 16 Oktober 2012
Jumat, 12 Oktober 2012
Biji Kapas dan Balai-balai
Di dalam dompet ku ada senyum mu dan kesepian yang amat asing.
Terselip dengan nyaman di antara kartu yang menyimpan nama-nama dan
sederet alamat yang tak pernah aku kunjungi.
Seluruh rindu tumpah di sana oleh udara yang tersayat sepi.
Aku termenung mengingat mu ketika senja yang hangat dan wangi damar
mengupas tujuh kalimat yang membawa kenangan tentang bocah ingusan
yang menyeru nama mu dari seberang sungai.
Di rekat hutan jati dan asam manggis, di tengah tandus tegalan
dan suara rindik bambu. Di tungkai ilalang dan ricik subak.
Lahirlah kesepian yang teramat asing, retak di antara jarak kasta.
Aku terjaga,
menyimpan biji kapas untuk asat rindu kita
Denpasar Selatan
Terselip dengan nyaman di antara kartu yang menyimpan nama-nama dan
sederet alamat yang tak pernah aku kunjungi.
Seluruh rindu tumpah di sana oleh udara yang tersayat sepi.
Aku termenung mengingat mu ketika senja yang hangat dan wangi damar
mengupas tujuh kalimat yang membawa kenangan tentang bocah ingusan
yang menyeru nama mu dari seberang sungai.
Di rekat hutan jati dan asam manggis, di tengah tandus tegalan
dan suara rindik bambu. Di tungkai ilalang dan ricik subak.
Lahirlah kesepian yang teramat asing, retak di antara jarak kasta.
Aku terjaga,
menyimpan biji kapas untuk asat rindu kita
Denpasar Selatan
Sebuah sajak yang aku tulis sendiri pas sore-sore ketika mendadak aku ingat suatu hal yang kemudian aku letakan di laci meja kerja
Gelas cangkir warna merah pemberian hadiah itu masih aku simpan di tempat semula, kalau-kalau kau pulang suatu kali ketika siang dan matahari sedang jahat padamu.
Cuci muka dulu lalu lipat sweater mu. Masih ada semangka di kulkas atau kalau mau pisang, aku letakan di meja dapur.
Televisi masih di ruang tengah. Juga kaktus yang pernah kita beli di pasar malam aku letakan di sebelah telepon yang lama sudah tidak berdering. Karpet abu-abu dan lukisan bali yang tergantung di dinding masih juga di tempat semula.
KAU sudah minum?
Aku meletakan kamboja hias di halaman belakang. Sebagai variasi dari beberapa anggrek kita yang kini makin jarang saja berbunga, mungkin aku tidak rajin membersihkan dari gulma yang banyak menempel di akar-akarnya yang menjulur.
Kau kan yang biasanya begitu?
Kalau sudah sore biasanya tukang bakso yang bunyinya ting ting ting itu lewat di jalan komplek. Kamu yang biasanya sedang menyiram bunga yang warnanya merah kuning itu suka tersenyum. Aku tidak tau apa yang si tukang bakso pikirkan setiap kali kamu begitu, yang aku tau dia suka menambah jatah bakso di mangkok kalau kau mendadak kepengen makan sore-sore.
Kini aku yang sering memindahkan pot-pot itu. Sekedar menatanya biar rapih.
Juga mencari tikus got yang suka sembunyi di belakangnya. Aku ingat kau takut dengan binatang yang mencicit. Biasanya satu dua tetangga menyapa sekedar basa basi, kok sendirian saja? Kalau sudah begitu biasanya aku hanya senyum dan menjawab kau belum pulang. Sungguh di dalam hatiku aku selalu ragu akan jawaban itu.
Denpasar Selatan 2012
Cuci muka dulu lalu lipat sweater mu. Masih ada semangka di kulkas atau kalau mau pisang, aku letakan di meja dapur.
Televisi masih di ruang tengah. Juga kaktus yang pernah kita beli di pasar malam aku letakan di sebelah telepon yang lama sudah tidak berdering. Karpet abu-abu dan lukisan bali yang tergantung di dinding masih juga di tempat semula.
KAU sudah minum?
Aku meletakan kamboja hias di halaman belakang. Sebagai variasi dari beberapa anggrek kita yang kini makin jarang saja berbunga, mungkin aku tidak rajin membersihkan dari gulma yang banyak menempel di akar-akarnya yang menjulur.
Kau kan yang biasanya begitu?
Kalau sudah sore biasanya tukang bakso yang bunyinya ting ting ting itu lewat di jalan komplek. Kamu yang biasanya sedang menyiram bunga yang warnanya merah kuning itu suka tersenyum. Aku tidak tau apa yang si tukang bakso pikirkan setiap kali kamu begitu, yang aku tau dia suka menambah jatah bakso di mangkok kalau kau mendadak kepengen makan sore-sore.
Kini aku yang sering memindahkan pot-pot itu. Sekedar menatanya biar rapih.
Juga mencari tikus got yang suka sembunyi di belakangnya. Aku ingat kau takut dengan binatang yang mencicit. Biasanya satu dua tetangga menyapa sekedar basa basi, kok sendirian saja? Kalau sudah begitu biasanya aku hanya senyum dan menjawab kau belum pulang. Sungguh di dalam hatiku aku selalu ragu akan jawaban itu.
Denpasar Selatan 2012
Kamis, 11 Oktober 2012
Beberapa hal mengenai satu orang yang sama
-alina
1/
Pada mulanya aku pikir hujan hanya ada di sajak yang di tulis ketika gelisah.
Kemudian ia ternyata ada di mimpi mu yang gelap, di sepasang matamu yang terpejam, di halaman teras rumah mu yang rindu pada desis tetes air yang segera menguap. Di kamar mandi yang mendengarkan keluh mu, di bantal yang menyimpan air matamu, di keran air yang senang membasahi telapakmu. Di pelukan jas hujan yang merangkul pundak mu. Di kalender yang kau lingkari setiap kali ada peristiwa yang membuat dada mu bergetar, di kaca jendela yang selalu lupa kau tutup ketika malam, di rumah mu yang penuh pohon-pohon dan rumput yang mengapung ketika hujan. Di jalan setapak yang selalu kau lewati sepulang kantor, ketika kau harus segera mencuci kaki dan memanaskan air, di gagang telepon genggam yang berpendar-pendar.
2/
Aku juga sering membayangkan hujan datang suatu pagi, mengetuk-ngetuk jendela kamarmu, lalu memaksa masuk kemudian bersembunyi di bawah teritikan bulu matamu. Kemudian kau mendadak teringat sesuatu dan ia segera meluncur ke bilah pipimu. Membuat mu merasa telah merelakan sesuatu terjatuh dan segera pecah menjadi bagian-bagian kecil.
3/
Seringkali aku membayangkan suatu kali ada seorang laki-laki lahir dari sebuah hujan yang mandul. Kemudian jatuh cinta pada kepada mu, kepada sepasang matamu yang lindap, kepada bibir mu yang merekah. Kepada jerit kelopak bunga, kepada kumbang yang bosan, kepada tangkai putik, kepada pantulan kolam, kepada ikat rambut mu, kepada tahi lalatmu.Kepada nafas mu, kepada kematian mu..
Pada mulanya aku merasa hujan mencintai mu.
gianyar 2010
1/
Pada mulanya aku pikir hujan hanya ada di sajak yang di tulis ketika gelisah.
Kemudian ia ternyata ada di mimpi mu yang gelap, di sepasang matamu yang terpejam, di halaman teras rumah mu yang rindu pada desis tetes air yang segera menguap. Di kamar mandi yang mendengarkan keluh mu, di bantal yang menyimpan air matamu, di keran air yang senang membasahi telapakmu. Di pelukan jas hujan yang merangkul pundak mu. Di kalender yang kau lingkari setiap kali ada peristiwa yang membuat dada mu bergetar, di kaca jendela yang selalu lupa kau tutup ketika malam, di rumah mu yang penuh pohon-pohon dan rumput yang mengapung ketika hujan. Di jalan setapak yang selalu kau lewati sepulang kantor, ketika kau harus segera mencuci kaki dan memanaskan air, di gagang telepon genggam yang berpendar-pendar.
2/
Aku juga sering membayangkan hujan datang suatu pagi, mengetuk-ngetuk jendela kamarmu, lalu memaksa masuk kemudian bersembunyi di bawah teritikan bulu matamu. Kemudian kau mendadak teringat sesuatu dan ia segera meluncur ke bilah pipimu. Membuat mu merasa telah merelakan sesuatu terjatuh dan segera pecah menjadi bagian-bagian kecil.
3/
Seringkali aku membayangkan suatu kali ada seorang laki-laki lahir dari sebuah hujan yang mandul. Kemudian jatuh cinta pada kepada mu, kepada sepasang matamu yang lindap, kepada bibir mu yang merekah. Kepada jerit kelopak bunga, kepada kumbang yang bosan, kepada tangkai putik, kepada pantulan kolam, kepada ikat rambut mu, kepada tahi lalatmu.Kepada nafas mu, kepada kematian mu..
Pada mulanya aku merasa hujan mencintai mu.
gianyar 2010
Kamis, 27 September 2012
Denpasar setelah hujan pagi ini
Saat itu cahaya masuk melalui kusen-kusen jendela
yang kemudian jatuh pada pegangan pintu, lalu menyusup ke jejeran buku pada rak kita yang tak pernah rapi,
hingga akhirnya bertahan di sela-sela bulumata mu. Menjelma menjadi udara tipis yang meniupkan mimpi mu
hingga terbawa keluar, menggoda burung yang bersitahan pada ranting-ranting.
Hujan masih memeluk mu di ruangan ini.
Hingga tanpa terasa rintik-rintiknya mulai merembas
Hingga tanpa terasa rintik-rintiknya mulai merembas
ke dalam pori-pori
Aku adalah perahu yang akan mengantar mu kembali ke dalam tidur.
Lalu aku adalah anak sungai yang lahir dari rahim cinta mu.. Katamu berbisik..
Aku adalah perahu yang akan mengantar mu kembali ke dalam tidur.
Lalu aku adalah anak sungai yang lahir dari rahim cinta mu.. Katamu berbisik..
kemudian gerimis menarik kusen jendela yang lupa kau tutup
- Rindu lahir berlembar-lembar
- Rindu lahir berlembar-lembar
Sanur 2012
Jumat, 21 September 2012
Jalan
Perih sekali jalan ini ya, katamu di sebuah perjalanan kita yang kesekian.
Di tepi haribaan senja yang berakhir dengan luka yang merembas hingga ke dalam dada.
"Aku ingin menuntun mu membaca tanda mata, tanda hidup yang paling purba"
Sinar lampu merkuri memantul di kaca-kaca jendela
Percakapan kita tertahan di pohon-pohon akasia
kutatap wajah kita di garis batas antara perih dan langit kota
Kau pernah mengurai senja menjadi potongan-potongan kenangan
yang aku simpan di halaman buku cerita, yang sampai kini masih aku baca berulang-ulang
seperti berkunjung ke taman yang hanya ada dalam sajak cinta.
Dua belas suku kata yang terakhir terucap
lalu menguap menjadi kabut yang mengaburkan pandangan ku.
lalu menguap menjadi kabut yang mengaburkan pandangan ku.
Menatap jalan yang aku tempuh
di sepanjang perjalanan kita
Denpasar 2012
Cafe
1/
Bulan Juni belum habis, masih terasa di dalamnya
ada garis-garis hujan yang halus turun rintik-rintik dalam hatinya.
Seperti garis putus-putus dalam kartu pos yang tak pernah sampai ke alamat mu.
Disadari pula waktu telah menariknya begitu panjang terurai seperti rambutmu,
bening menangkap cahaya seperti matanya pertama kali menatap mu.
Pada bulan Juni yang panas, di sebuah cafe yang kau telah lupa namanya.
2/
Dia mengerti tentang garis-garis hujan yang melintang di sana-sini, namun
Ia tidak mengerti makna alam: panggilan tanda yang mengajak
hatinya mencintai mu.
Sederhana.
Sederhana.
Dia hanya ingin duduk saja di cafe itu, menunggu engkau datang,
lalu menyeka pundak mu, meminta mu duduk
dan mendengarkan cerita mu
bersama lampu-lampu
yang menatap mu lembut
yang menatap mu lembut
Denpasar 2012
Senin, 13 Agustus 2012
Di belokan ketiga di Jalan Sumatra
Di belokan ketiga di Jalan Sumatra,
kamu berhenti pada bayang-bayang pohon akasia.
Seperti semula, kota ini tidak menawarkan apa-apa kecuali
rindu yang diseret sepanjang trotoar.
Rindu yang lahir dari pecahan kenangan tentang masa kecil,
tentang lapangan tenis yang lengang, tentang sepeda angin yang kita
kayuh sekuat nafas ku memburu pita merah muda yang kau ikat di pedal.
Tentang jalan lubang yang menjadi petualangan paling dahsyat.
Tentang belokan ketiga di Jalan Sumatra,
di tepi pura tua yang teduh, bau dupa dan
bunga yang tercecer di halamannya.
Kenangan seperti kota ini, senantiasa memperbarui dirinya
senantiasa menutup luka, serta lubang
yang menjerat kita berpusar
dalam batas tanpa tepi.
Langganan:
Komentar (Atom)
