Selasa, 19 September 2017

Merpati yang tersangkut di jendela

1/
Aku bagai lautan tanpa ikan, begitukah?

Sejak kau menjelma menjadi musim hujan, aku selalu ingin menari di atas tubuh mu yang basah.
Menerka-nerka bagian mana dari lekuk mu yang akan ku peluk.
Aku ingin kau memperlakukan ku seperti selapang gurun pasir
bukan seperti pigura yang berisi foto-foto palsu.

Di atas meja kafe yang telah tercemari kesedihan ini
aku menulis kembali sajak yang telah lama aku lupakan
Merangkai kata-kata dari sudut-sudut kenangan yang paling kejam
Aku menyusun wajah mu dari trauma yang paling sedih yang bisa aku terima

Musim hujan yang tak pernah datang..

Jumat, 18 Agustus 2017

Biduan

Malam muncul dari kopi dan gula yang diaduk seorang penari dangdut. Rasanya manis, semanis senyum merah biduan perapal mantra lagu-lagu kegembiraan asmara dan durhaka.

Dibawakannya lagi tembang lagu tentang penyair yg hatinya babak belur mencintai durjana yang tak kasmaran. Dalam matanya yg redup saya nyalakan rembulan 15 watt agar hati yang telah gelap dan terlupakan di kota yang ramai dengan kesepian ini jadi terang rupawan.

Dendangnya mengalun menggoyang hidup saya yang lurus. Dentum gendang dan tiupan suling yang gundah membawa saya ke sebuah rumah yang menguarkan bau keringat tubuhnya, merangkainya menjadi nada melodi bertingkat tempat segala kenang dan kesusahan tertidur di dalamnya


2017






Selasa, 15 Agustus 2017

Sebagaimana

Kpd yg berulang tahun

Sebagaimana matahari,
kau adalah segumpal cahaya yang
menggugurkan daun-daun
menggetarkan ranting-ranting lalu
menghidupkan tunas
kemudian membakarnya dengan panas.

Sebagaimana matahari,
kau pandai merawat luka,
menciptakan musim dan 
segala cuaca dari riak tawa
menyemai biji-bijian di
ladang hampar tempat kau menumbuhkan
akar-akar yang menjerat
pikiran-pikiran ku

Sebagaimana matahari:

pada akhirnya kau akan tenggelam
di garis cakrawala.
Menjelma senja semburat merah mega-mega
yang akan menutup dunia ku
dengan selimut malam yang

gelap tanpa cahaya

2017

Senin, 14 Agustus 2017

Penghunus Hujan

Jalanan basah, udara wangi darah,
Kulihat kau datang tergesa-gesa masuk kedalam rumah.
Tubuhmu basah. 

Kau bilang padaku
hujan baru saja mati di ujung jalan, ditembak
mayatnya dilempar ke selokan,
timbul tenggelam.


2017

Minggu, 13 Agustus 2017

Email dari Kyoto

Dalam surat itu ada selembar foto saat kau  menyihir pohon, jalan dan selokan dengan rahang bunga dan kuntum-kuntum muara dalam percikan kolam penuh gangga mengabadikan drama dalam potongan cahaya keemasan.


2017




Jumat, 11 Agustus 2017

BUYAN

Kau berlayar sambil memandang sepi,
menciumi wanginya cahaya,
sendirian saja tanpa menyadari
ada aku yang memekik di seberang sini

Menyibak riak-riak menggerakan daun jati.
Menghempas bunga-bunga


2017

Senin, 07 Agustus 2017

Nazim yang datang sebanyak-banyaknya

Dapat dikatakan, kini ia telah merdeka! 
Setelah hakim menyatakan ia adalah seekor manusia. 
Ia lalu lari mengejar papan iklan yang berjajar seperti pasukan. 
Aku rindu kalian, sungguh! 

Ketika ia menyatakan demikian, aku tak sengaja menemuinya. 
Dengan rokok filter di antara jarinya ia bercerita pada ku: 
Penyair adalah tanda akhir jaman yang paling nyata, ketika setiap orang mampu menulis sajak maka lekaslah kau bertobat. 

Lalu adzan Jum'at mulai mengajak kami memasuki sebuah rumah. 
Kami diam sejenak karena seseorang yang tak kami kenal menasehati kami di mimbar depan. 

Astaga, DIA adalah penyair paling merdeka!

Selasa, 30 Mei 2017

Ketika Juni terasa panas dan kita lupa untuk mengucapkan selamat tinggal

Bulan Juni belum juga habis, masih terasa di dalamnya
ada garis-garis halus turun rintik-rintik seperti
garis putus-putus dalam kartu pos yang tak pernah
sampai ke alamat rumah kita

Disadari pula waktu telah begitu panjang terurai seperti cahaya yang menangkap bening pada bulan Juni yang panas, di sebuah halte yang kita telah lupa namanya.

Kita mengerti mereka yang bercahaya melintas di sana-sini, namun
kita tidak mengerti makna alam: panggilan tanda yang mengajak
kita menerjemahkan arti. Sederhana.

Padahal kita hanya ingin duduk saja di halte itu, menunggunya datang,
menyeka pundak, membuka payungnya
dan meminta kita bercerita
tentang Juni yang masih juga belum
habis-habis kita nikmati

Kamis, 27 April 2017

Lembang

Kegelisahan mu dan kegelisahan ku akan selalu lahir dari rahim rindu di hari-hari yang berputar berulang seperti dengung kulkas yang menyimpan kesepian yang panjang. Seperti tahun-tahun yang lampau tentang keinginan mu meninggalkan kota ini. Bangkit dari ingatan yang barangkali segera aku dan kau lupakan: tentang jalan panjang, tentang suara tawa dari sudut ruangan, tentang malam-malam dingin ketika kita lupa memadamkan api yang menguapkan peluh menjadi kabut yang menutup pandangan kita tentang masa depan, dua ribu kilometer jauhnya.

Di lepas jejeran pinus dan akasia sepanjang jalan Subang kau remuk, pecah, menjadi percikan cahaya-cahaya..

Selasa, 14 Maret 2017

Apartemen No. 519

Jika waktu dan kenangan adalah jejak-jejak daun yang menyentuh bibir kolam, maka hujan adalah luka yang tumbuh menjadi bintik-bintik air yang menghambur ke sepenjuru arah. Membawa basah pada setiap jendela yang berkelip-kelip setelah gemuruh badai berkilat membelah langit.

Kau bertanya, bagian mana tubuhku yang ingin kau cium? Sungguh, aku ingin setiap senja mati di bingkai jendela, agar cahayanya jatuh ke punggung mu dan aku bisa tidur di sana bermimpi tentang dunia tanpa ingatan

Kamis, 02 Maret 2017

Catatan dengan sebuah nama

Bagaimana aku tau dirimu yang
tertulis di selembar catatan kecil ;
hanya sebuah nama
tanpa tanda

Dua gelas kopi panas
satu untuk mu dan satu untuk ku
agar kita bisa berbincang sampai larut,
sambil aku membayangkan
wajahmu adalah segumpal
awan merah muda

mungkin awan yang manis;
karena warnanya mirip
dengan gula gula

Gula gula yang kau minta dari aku
di pesta malam,
setelah purnama ke delapan
Senyum mu mengembang
lalu berputar putar di kepala;
Coba engkau hitung berapa jerawatku?

Aku suka caramu bertanya, caramu tersenyum,
caramu menggoda, juga caramu melingkarkan lengan
yang membuat udara bergetar.
Membuat fajar nampak perawan, meski yang terlihat
adalah tujuh jerawat di wajahmu.

Jerawat yang seperti titik bintang
yang menjadi arah perjalanan
ke kotamu.

Setiap kali aku menelusuri tikungan
dan barisan tiang-tiang yang basah.
Di balik kaca jendela yang buram
oleh ribuan kenangan
berdesak desakan

Hanya untuk mengantarkan sebuah doa
ke balik selimut mu :

Ketika gerimis berhamburan, kita tidak bergegas,
Ketika jarak menjadi bias,
aku tak mengaduh.

Namun aku selalu berjanji
dalam hati:
Saat nanti kita bertemu lagi, saat rindu sudah jadi bintang yang redup,
saat lubuk-lubuk kesepian telah penuh.

Aku akan mengatakan padamu;
"hati hatilah dengan senyummu, dengan tujuh
rupa jerawatmu, dengan gula gula manis
serupa rambutmu..

Karena hanya dengan itu,
akan ada seorang pria yang mencatat mu
di sebuah catatan kecil..

Catatan dengan hanya sebuah nama tanpa tanda