1/
KAMU adalah langit tanpa warna biru, hujan tanpa aba-aba,
awan tanpa anak-anak yang membayangkan bentuk-bentuk,
Kamu turun dari laut dan membangun rumah dari pasir untuk kita
dengan jendela besar menghandap senja. Membingkainya dalam pas foto
dan kau selipkan di kantung jins ku pada suatu sore yang malang.
2/
PERASAAN bercampur ombak pecah di meja makan.
Aku memunguti serpihannya bertahun-tahun,
mencoba menyusun kembali dengan lirik lagu pop
yang dinyanyikan dari setiap tikungan, ujung-ujung gang,
lobi hotel, galeri lukisan hingga panggung-panggung drama.
Aku masuki setiap studio foto yang membingkai masa depan
dengan janji-janji pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan,
dan jalan-jalan mulus yang dibangun dari rasa rindu.
3/
HINGGA setiap kilometer tertulis seperti sajak yang dibuat
dari kumpulan kata yang aku susun seolah-olah
wajahmu turun dari awan-awan tinggi itu,
mengecup hidungku dan berbisik
Belajarlah untuk membangun layar diatas perasaan,
biarkanlah takdir berhembus dan membawa mu ke tempat-tempat
yang asing, lalu temuilah aku ketika musim layang-layang,
saat setiap kecemasan dibumbungkan ke langit.
Saat doa mu berhenti mencari ku.
Pondok Ranji 2015
Minggu, 07 Juni 2015
Belajar Menulis
KAU selalu menyusun huruf demi huruf pada lembaran perasaan,
menghapusnya ketika ia bermakna sesuatu yang mengingatkan mu
dengan suara yang sangat kau kenal.
Kau bahkan ingin mengulang kembali sajak ini dengan
kata yang romantis, dengan hujan dan
jembatan, juga senja dan jeritan bunga-bunga.
KUMPULAN rindu yang mabuk ketika kita
berjalan di lorong-lorong kota, diantara
parahnya perasaan cinta kita. Bahwa saat itu
kita sadar untuk kembali menjadi penyair,
kita harus kembali belajar menulis.
Mengulang rindu dan menyusun takdir
yang sepotong-sepotong, merapikan setiap
adegan perselisihan, bercinta di kata pengantar
dan saling berpelukan di halaman belakang.
KAU memutuskan untuk menutup buku
dan beranjak dari kursimu. Menutup jendela dan menyusun meja.
Meletakan buku mu diantara aku dan rindu yang
kau selipkan di laci mu
Pondok Ranji 2015
menghapusnya ketika ia bermakna sesuatu yang mengingatkan mu
dengan suara yang sangat kau kenal.
Kau bahkan ingin mengulang kembali sajak ini dengan
kata yang romantis, dengan hujan dan
jembatan, juga senja dan jeritan bunga-bunga.
KUMPULAN rindu yang mabuk ketika kita
berjalan di lorong-lorong kota, diantara
parahnya perasaan cinta kita. Bahwa saat itu
kita sadar untuk kembali menjadi penyair,
kita harus kembali belajar menulis.
Mengulang rindu dan menyusun takdir
yang sepotong-sepotong, merapikan setiap
adegan perselisihan, bercinta di kata pengantar
dan saling berpelukan di halaman belakang.
KAU memutuskan untuk menutup buku
dan beranjak dari kursimu. Menutup jendela dan menyusun meja.
Meletakan buku mu diantara aku dan rindu yang
kau selipkan di laci mu
Pondok Ranji 2015
Sabtu, 09 Mei 2015
Kamera
Kamera adalah sebuah usaha untuk menangkap cahaya. Tentu.
Kudengar suara getar dari diafragma yang melesat
mengurung kenangan tentang mu kedalam kotak frame
berukuran 4x3
Kau adalah cahaya.
dan mataku adalah rasa cemas, yang bersiap-siap.
Berupaya membuat aku
mengejar cahaya seperti sekumpulan laron
Lalu aku pun merasa awan-awan akan turun
dan mengaburkan pandangan mu. Mungkin.
Lalu apakah cahaya itu masih tetap ada?
Meski api telah surut di dalam dada
Pondok Ranji 2015
Kudengar suara getar dari diafragma yang melesat
mengurung kenangan tentang mu kedalam kotak frame
berukuran 4x3
Kau adalah cahaya.
dan mataku adalah rasa cemas, yang bersiap-siap.
Berupaya membuat aku
mengejar cahaya seperti sekumpulan laron
Lalu aku pun merasa awan-awan akan turun
dan mengaburkan pandangan mu. Mungkin.
Lalu apakah cahaya itu masih tetap ada?
Meski api telah surut di dalam dada
Pondok Ranji 2015
Rabu, 06 Mei 2015
Akuarium
Di persimpangan itu ada jalan setapak yang jika siang matahari panas biasanya kamu berdiri menunggu angkutan yang akan menuju pasar di turunan di selatan kota. Kamu yang menahan haus memperhatikan akuarium milik toko ikan di seberang.
Kamu membayangkan menjadi ikan yang berenang di dalam gelas kaca, membayangkan tubuh mu meliuk diantara batu-batu pualam dan mainan plastik yang mengeluarkan gelembung-gelembung, yang pecah ketika kau sentuh, yang riaknya terasa hingga kau naik ke dalam angkutan umum.
Tanah Abang
2015
Kamu membayangkan menjadi ikan yang berenang di dalam gelas kaca, membayangkan tubuh mu meliuk diantara batu-batu pualam dan mainan plastik yang mengeluarkan gelembung-gelembung, yang pecah ketika kau sentuh, yang riaknya terasa hingga kau naik ke dalam angkutan umum.
Tanah Abang
2015
Rabu, 14 Januari 2015
Bayangan
Kami bersahabat dengan bayangan kami sendiri. Bayangan kami yg terbuat dari matahari pagi, yg memanjang hingga ke belakang, yg menjaga punggung kami. Menjaga hitam gelap sisi diri kami.
Bayangan kami adalah sahabat yg paling purba, melekat pada kami sejak matahari diciptakan, bayangan kami adalah nyawa kami yg terlempar dari raga, kami dan bayangan adalah purna.
Bayangan kami adalah sahabat yg paling purba, melekat pada kami sejak matahari diciptakan, bayangan kami adalah nyawa kami yg terlempar dari raga, kami dan bayangan adalah purna.
Palmerah 2015
Rabu, 10 Desember 2014
Ladang Hati
Tiap hari pelan pelan perempuan itu menyemai bebiji macam macam pohon.
"Ladang ini terlalu luas untuk sekedar lapang.." Ujar perempuan itu suatu kali
Maka Dia, seorang laki laki sederhana, merelakan sehampar tubuhnya -juga hatinya
di tanami berbagai pohon.
"Musim hujan kelak, saat waktunya pohon menyemai bunga menjadi buah.
Ladang ini akan ramai oleh burung. Aku menyebutnya sebagai kebun burung"
Dia tahu semenjak semula,
perempuan itu memang pandai menanam pohon. Maka ia biarkan jari jarinya
menelusuri setiap jengkal hatinya. Ia genggam tangannya menabur
serpihan batu kerikil di ladang hatinya sendiri.
"Supaya bisa jadi petunjuk bagi mu, bahwa aku pernah menemani mu di sini"
Katanya sesudah mengurai air mata yang basah di dadaku.
Dia juga tau bahwa sejak semula, perempuan itu tidak akan pernah menuai buah
yang kini menjadi ladang burung. Dia, laki laki sederhana itu mengerti jika kini
tubuhnya -juga hatinya dipenuhi suara kepak sayap yang terdengar hingga ke ujung air mata.
sanur-seminyak 2010
"Ladang ini terlalu luas untuk sekedar lapang.." Ujar perempuan itu suatu kali
Maka Dia, seorang laki laki sederhana, merelakan sehampar tubuhnya -juga hatinya
di tanami berbagai pohon.
"Musim hujan kelak, saat waktunya pohon menyemai bunga menjadi buah.
Ladang ini akan ramai oleh burung. Aku menyebutnya sebagai kebun burung"
Dia tahu semenjak semula,
perempuan itu memang pandai menanam pohon. Maka ia biarkan jari jarinya
menelusuri setiap jengkal hatinya. Ia genggam tangannya menabur
serpihan batu kerikil di ladang hatinya sendiri.
"Supaya bisa jadi petunjuk bagi mu, bahwa aku pernah menemani mu di sini"
Katanya sesudah mengurai air mata yang basah di dadaku.
Dia juga tau bahwa sejak semula, perempuan itu tidak akan pernah menuai buah
yang kini menjadi ladang burung. Dia, laki laki sederhana itu mengerti jika kini
tubuhnya -juga hatinya dipenuhi suara kepak sayap yang terdengar hingga ke ujung air mata.
sanur-seminyak 2010
Selasa, 18 November 2014
Membaca kata berakhiran -au
Aku pernah mencoba mencoba membaca kau di dalam buku cerita pendek yang pernah kau beri padaku pada suatu pagi yang redup. “Sebab beginilah akhirnya kita berdua patah di tikungan jalan” Kalimat kata pengantar yang aku baca dengan lirih.
Aku tak menduga kau juga tidak aku temukan pada piyama mu yang lembut, piyama itu tertinggal di ujung tempat tidur, tertinggal begitu saja tanpa ada yang bertanya untuk apa ia disana, mungkin ia rindu memeluk tubuhmu ketika malam, atau aku yang takut menampik ingatan?
Aku juga pernah bertanya kepada seorang petugas telepon, ia mengatakan mungkin kau ada di pesan-pesan singkat yang sering tak aku balas, ah kata-kata yang manis, ah kata-kata yang terbuat dari kabut, begitu samar seperti masa depan. Begitu lirih seperti kata pengantar yang aku bacakan pada mu.
Di jalanan yang padat tidak ada kau, juga di dinding-dinding papan iklan, hingga telaga yang tenang berkata:
Maka demi langit yang kelabu
Adakah kau di setiap sudut ruangan?
berlompatan seperti neutron
mengisi setiap atom
hadir tanpa adap pertanyaan
hilang tanpa ada jawaban?
Mungkin aku hanya rindu menyebut namamu tanpa menjadi rindu
-Kuningan 2014
Rabu, 13 Agustus 2014
Kelemayar
Kau tau? Tiap kali cuaca panas memanggang kota
aku selalu ingin berteduh di bawah bulu matamu.
Duduk bersandar pada obrolan yang mengalir
meliuk seperti sungai-sungai yang tak akan kering
dibawah matahari yang membara.
"Ah, rambut mu rupanya persis seperti ingatanku tentang laut.
Laut yang pernah aku jumpai di sebuah pulau jauh dari kota ini."
Ucapku, sambil memperhatikan jarimu yang memasukan angka di tabel excel yang bertumpuk-tumpuk seperti jendela pada gedung-gedung tinggi.
Aku tidak pernah mengerti caranya memasukan angka-angka pada tabel excel. Aku tidak pernah paham mengapa kau berbinar menyilaukan.
--
Sejak itu aku ingin mencatat dirimu dengan cara yang tak biasa.
Ku tulis dirimu di tembok rumah, jendela kantor, hingga daun-daun yang
berantakan seperti kata-kata.
aku selalu ingin berteduh di bawah bulu matamu.
Duduk bersandar pada obrolan yang mengalir
meliuk seperti sungai-sungai yang tak akan kering
dibawah matahari yang membara.
"Ah, rambut mu rupanya persis seperti ingatanku tentang laut.
Laut yang pernah aku jumpai di sebuah pulau jauh dari kota ini."
Ucapku, sambil memperhatikan jarimu yang memasukan angka di tabel excel yang bertumpuk-tumpuk seperti jendela pada gedung-gedung tinggi.
Aku tidak pernah mengerti caranya memasukan angka-angka pada tabel excel. Aku tidak pernah paham mengapa kau berbinar menyilaukan.
--
Sejak itu aku ingin mencatat dirimu dengan cara yang tak biasa.
Ku tulis dirimu di tembok rumah, jendela kantor, hingga daun-daun yang
berantakan seperti kata-kata.
Selasa, 03 Juni 2014
Lautan
Hati yang kecewa itu seperti lautan yang memeluk mu pada malam-malam yang jenuh. Ketika kau terus melangkah diantara panggilannya yang melembutkan pasir bagi telapak mu. Ia mencintai mu tanpa memerlukan jawaban, hanya jejak-jejak yang kau tinggalkan di bibirnya.
Dan hanya dalam pejam, kau bisa menyaksikan hamburan jutaan plankton dan ubur-ubur berwarna jingga berlerai dari tepi cakrawala. Mereka berkerumun di ujung-ujung senja dan dengan jari tangan mu kau letakan ciuman paling hangat kedalam ombak yang berkilauan.
Engkau lalu berperasangka:
kelak jika lautan dan dirinya yang berwarna jingga itu sampai di tepi pantai. Ia akan mencari sepasang matamu untuk di cium atau hinggap di pipimu sebagai sesuatu yang akan engkau kenang.
Tiba-tiba aku jatuh cinta,
jatuh di ujung daun jendela yang kau buka.
Kau buka untuk menunggunya.
Juni 2014
Selasa, 18 Maret 2014
Lelaki yang kehilangan lengan dengan seorang wanita yang bisu
Berapa kali hujan harus turun setiap kali kau jatuh kepada sepasang mata seorang lelaki?
Kau bilang di suatu malam yang gerah:
“ Aku tidak perlu di temani, perempuan bisu yang tuli seperti ini tak perlu di kasihani”
Aku memar memandang bibir mu yang bergetar ketika mengucap itu dengan bahasa isyarat.
Dengan jari tangan yang putih. Membuat aku ingin menggenggam dan menyimpannya dalam saku. Agar bisa tentram dari dunia yang tak berpihak pada mu.
Namun aku laki-laki yang tak punya lengan.
Aku tak bisa mengusap punggung telapak mu, tak bisa menggenggam mu,
tak bisa mengatakan sesuatu dengan isyarat sekalipun.
Aku hanya bisa menyentuhkan pipi ku ke telapak mu.
Dan berdoa meski kau tak mendengarnya:
“Sesungguhnya apa yang ingin aku katakan sudah kau dengar. Mata adalah telinga bagimu dan mulut bagi diriku. Aku ingin menjadi beranda yang melindungi mu dari hujan. Menyediakan ruang yang ada untuk membuat mu akhirnya merasa aman darinya. Dengan begitu Suara ku tak akan hilang meski kita berada di tengah badai yang meruntuhkan segala di sekitar kita”
Terdengar hujan turun rintik-rintik dalam dada kita masing-masing
Tanjung Karang – Sanur
Langganan:
Komentar (Atom)
