Senin, 20 April 2015

Rabu, 14 Januari 2015

Bayangan

Kami bersahabat dengan bayangan kami sendiri. Bayangan kami yg terbuat dari matahari pagi, yg memanjang hingga ke belakang, yg menjaga punggung kami. Menjaga hitam gelap sisi diri kami.

Bayangan kami adalah sahabat yg paling purba, melekat pada kami sejak matahari diciptakan, bayangan kami adalah nyawa kami yg terlempar dari raga, kami dan bayangan adalah purna.

Palmerah 2015

Rabu, 10 Desember 2014

Ladang Hati

Tiap hari pelan pelan perempuan itu menyemai bebiji macam macam pohon.
"Ladang ini terlalu luas untuk sekedar lapang.." Ujar perempuan itu suatu kali
Maka Dia, seorang laki laki sederhana, merelakan sehampar tubuhnya -juga hatinya
di tanami berbagai pohon. 
"Musim hujan kelak, saat waktunya pohon menyemai bunga menjadi buah.
Ladang ini akan ramai oleh burung. Aku menyebutnya sebagai kebun burung"

Dia tahu semenjak semula,
perempuan itu memang pandai menanam pohon. Maka ia biarkan jari jarinya
menelusuri setiap jengkal hatinya. Ia genggam tangannya menabur
serpihan batu kerikil di ladang hatinya sendiri.
"Supaya bisa jadi petunjuk bagi mu, bahwa aku pernah menemani mu di sini"
Katanya sesudah mengurai air mata yang basah di dadaku.

Dia juga tau bahwa sejak semula, perempuan itu tidak akan pernah menuai buah
yang kini menjadi ladang burung. Dia, laki laki sederhana itu mengerti jika kini
tubuhnya -juga hatinya dipenuhi suara kepak sayap yang terdengar hingga ke ujung air mata.

sanur-seminyak 2010

Selasa, 18 November 2014

Membaca kata berakhiran -au

Aku pernah mencoba mencoba membaca kau di dalam buku cerita pendek yang pernah kau beri padaku pada suatu pagi yang redup. “Sebab beginilah akhirnya kita berdua patah di tikungan jalan” Kalimat kata pengantar yang aku baca dengan lirih.

Aku tak menduga kau juga tidak aku temukan pada piyama mu yang lembut, piyama itu tertinggal di ujung tempat tidur, tertinggal begitu saja tanpa ada yang bertanya untuk apa ia disana, mungkin ia rindu memeluk tubuhmu ketika malam, atau aku yang takut menampik ingatan?

Aku juga pernah bertanya kepada seorang petugas telepon, ia mengatakan mungkin kau ada di pesan-pesan singkat yang sering tak aku balas, ah kata-kata yang manis, ah kata-kata yang terbuat dari kabut, begitu samar seperti masa depan. Begitu lirih seperti kata pengantar yang aku bacakan pada mu.

Di jalanan yang padat tidak ada kau, juga di dinding-dinding papan iklan, hingga telaga yang tenang berkata: 
Maka demi langit yang kelabu
Adakah kau di setiap sudut ruangan? 
berlompatan seperti neutron 
mengisi setiap atom
hadir tanpa adap pertanyaan
hilang tanpa ada jawaban?


Mungkin aku hanya rindu menyebut namamu tanpa menjadi rindu

-Kuningan 2014

Rabu, 13 Agustus 2014

Kelemayar

Kau tau? Tiap kali cuaca panas memanggang kota
aku selalu ingin berteduh di bawah bulu matamu.
Duduk bersandar pada obrolan yang mengalir
meliuk seperti sungai-sungai yang tak akan kering
dibawah matahari yang membara.

"Ah, rambut mu rupanya persis seperti ingatanku tentang laut.
Laut yang pernah aku jumpai di sebuah pulau jauh dari kota ini."

Ucapku, sambil memperhatikan jarimu yang memasukan angka di tabel excel yang bertumpuk-tumpuk seperti jendela pada gedung-gedung tinggi.

Aku tidak pernah mengerti caranya memasukan angka-angka pada tabel excel. Aku tidak pernah paham mengapa kau berbinar menyilaukan.

--

Sejak itu aku ingin mencatat dirimu dengan cara yang tak biasa.
Ku tulis dirimu di tembok rumah, jendela kantor, hingga daun-daun yang 
berantakan seperti kata-kata. 












Selasa, 03 Juni 2014

Lautan

Hati yang kecewa itu seperti lautan yang memeluk mu pada malam-malam yang jenuh. Ketika kau terus melangkah diantara panggilannya yang melembutkan pasir bagi telapak mu. Ia mencintai mu tanpa memerlukan jawaban, hanya jejak-jejak yang kau tinggalkan di bibirnya. 

Dan hanya dalam pejam, kau bisa menyaksikan hamburan jutaan plankton dan ubur-ubur berwarna jingga berlerai dari tepi cakrawala. Mereka berkerumun di ujung-ujung senja dan dengan jari tangan mu kau letakan ciuman paling hangat kedalam ombak yang berkilauan.

Engkau lalu berperasangka: 
kelak jika lautan dan dirinya yang berwarna jingga itu sampai di tepi pantai. Ia akan mencari sepasang matamu untuk di cium atau hinggap di pipimu sebagai sesuatu yang akan engkau kenang.

Tiba-tiba aku jatuh cinta,
jatuh di ujung daun jendela yang kau buka.

Kau buka untuk menunggunya.


Juni 2014

Selasa, 18 Maret 2014

Lelaki yang kehilangan lengan dengan seorang wanita yang bisu

Berapa kali hujan harus turun setiap kali kau jatuh kepada sepasang mata seorang lelaki?
Kau bilang di suatu malam yang gerah:
“ Aku tidak perlu di temani, perempuan bisu yang tuli seperti ini tak perlu di kasihani”

Aku memar memandang bibir mu yang bergetar ketika mengucap itu dengan bahasa isyarat.
Dengan jari tangan yang putih. Membuat aku ingin menggenggam dan menyimpannya dalam saku. Agar bisa tentram dari dunia yang tak berpihak pada mu.

Namun aku laki-laki yang tak punya lengan.
Aku tak bisa mengusap punggung telapak mu, tak bisa menggenggam mu,
tak bisa mengatakan sesuatu dengan isyarat sekalipun.

Aku hanya bisa menyentuhkan pipi ku ke telapak mu.

Dan berdoa meski kau tak mendengarnya:
“Sesungguhnya apa yang ingin aku katakan sudah kau dengar. Mata adalah telinga bagimu dan mulut bagi diriku. Aku ingin menjadi beranda yang melindungi mu dari hujan. Menyediakan ruang yang ada untuk membuat mu akhirnya merasa aman darinya. Dengan begitu Suara ku tak akan hilang meski kita berada di tengah badai yang meruntuhkan segala di sekitar kita”

Terdengar hujan turun rintik-rintik dalam dada kita masing-masing



Tanjung Karang – Sanur 

Senin, 24 Februari 2014

Everything You're Not Supposed To Be

Sudah lama aku jatuh cinta, namun

Kenangan mu mengetuk rumah ku pada suatu sore yang berkabut.
Mengantarkan gelisah milik mu yang berisi setumpuk buku cerita tentang rumah, tawa dan banyak sekali air mata.

Satu dua tiga hingga ribuan jarak sudah aku tempuh. Namun kenangan mu selalu menemukan ku, menawarkan gelisah itu ke hadapan ku. Mungkin barangkali ia bersengkongkol dengan sunyi.

Mungkin ia masuk ke mimpi-mimpiku: Sebuah bayangan yang terus-menerus menggerus kesadaran.

Kelak aku akan membawa batu-batu dari dalam lubuk. Akan kuletakan ke setiap alamat-alamat yang pernah kau datangi, ke pulau-pulau asing, ke sudut-sudut kota, ke bangku-bangku cafe, mencicipi tawa mu, menegak air mata mu. Hanya sebagai tanda bahwa aku telah memasuki relung mu.

Hingga seluruh tubuh ku adalah bayang-bayang mu, dan ia, Kenangan itu menyerah atau menabrakan dirinya di jalan layang. Atau juga bergegas berdamai dengan dirimu yang telah menjadi diriku.

Pada suatu sore yang berkabut



Senin, 02 Desember 2013

Catatan dengan sebuah nama

Bagaimana aku tau dirimu yang
tertulis di selembar catatan kecil ;
hanya sebuah nama
tanpa tanda

Dua gelas kopi panas
satu untuk mu dan satu untuk ku
agar kita bisa berbincang sampai larut,
sambil aku membayangkan 
wajahmu adalah segumpal
awan merah muda

mungkin awan yang manis;
karena warnanya mirip
dengan gula gula

Gula gula yang kau minta dari aku
di pesta malam,
setelah purnama ke delapan
Senyum mu mengembang 
lalu berputar putar di kepala;
Coba engkau hitung berapa jerawatku?

Aku suka caramu bertanya, caramu tersenyum,
caramu menggoda, juga caramu melingkarkan lengan
yang membuat udara bergetar.
Membuat fajar nampak perawan, meski yang terlihat
adalah tujuh jerawat di wajahmu.

Jerawat yang seperti titik bintang
yang menjadi arah perjalanan
ke kotamu. 
Setiap kali aku menelusuri tikungan
dan barisan tiang-tiang yang basah.
Di balik kaca jendela yang buram
oleh ribuan kenangan
berdesak desakan

Telah aku niatkan hanya untuk mengantarkan sebuah doa
ke balik selimut mu :

Ketika gerimis berhamburan, kita tidak bergegas,
Ketika jarak menjadi bias,
aku tak mengaduh.
Namun aku selalu berjanji
dalam hati:

Saat nanti kita bertemu lagi, saat rindu sudah jadi bintang yang redup,
saat lubuk-lubuk kesepian telah penuh.
Aku akan mengatakan padamu;
"hati hatilah dengan senyummu, dengan tujuh
rupa jerawatmu, dengan gula gula manis
serupa rambutmu..
Karena hanya dengan itu, 
akan ada seorang pria yang mencatat mu
di sebuah catatan kecil..
Catatan dengan hanya sebuah nama tanpa tanda"

Empat Pertarungan



1/
Kau memberi isyarat lewat cuaca
dan bulu mata
"aku ingin kau bawa aku sampai ujung sungai..
menelusuri keloknya, memahami riaknya, mengasuh ricik air matanya"
Kita berada di antara etalase kaca,
di luar sana gerimis menulis sajak;
Pada dadamu aku melukis liang
kugunakan sebagai tanda untuk pulang
Menelusuri tikungan dan lingkar jalan
di iringi baris kerinduan.

2/
Kau membaca diriku dari seberapa lama hujan turun
yang kau catat di selembar kertas.
Lalu kau lipat dua dan menyelipkan di saku blazermu.
Saat kau ingin pulang kantor dan menunggu bus di trotoar:
Angin memisah misah baris hujan
menjadi sajak yang ingin kubaca untukmu.
Menemanimu berdesakan di metro mini
menelusuri jalan kecil, membuka sepatu,
menangis, lalu luruh di gagang telepon.

3/
Gelang yang pernah kau beli masih melingkar di lenganku,
melingkar seperti kenangan yang berawal dari satu tempat
dan kembali ke tempat yang sama. Melingkar seperti
stadion tempat kau lari pagi setiap minggu. Melingkar seperti
tikungan tempat kita makan bubur ayam setelah semalam
kita menyusuri jalan mencari sepi.
Aku menghitung nyala di matamu,
berapa lama kau butuh waktu untuk percaya
jika jejak bunga yang tersisa di jalan
adalah milik kita yang kehilangan arah.
Karena perbedaan
menjadi satu satunya bahasa yang
dapat kita pahami.

4/
Di tepi pantai kau memilah angin
menghalangi laut merebut ku.
Tapi perjalanan pun terjadi juga,
di suatu sore yang berakhir cacat.
Seperti bayangan tentang masa depan kita
yang tak pernah lahir sempurna.
Aku selipkan jari jariku untuk menggambar hatimu
Meninggalkannya dengan segera
agar kau bisa kembali
memulai hidupmu
meninggalkan aku di kejauhan,
di dermaga dan tiang tiang yang kering.


Selasa, 12 November 2013

Musim Hujan datang kembali

                                                              - DSR

Aku tak sempat menulis sajak untuk mu hari ini
Begitu pesan singkat yang aku terima dari balik rindu yang turun dari siang tadi.
Mengapa perasaan mengalir meliuk menggenang lalu beriak setiap kali
aku bayangkan kau datang dengan kacamata berembun di balik helm
Aku terlambat lagi bukan?

wangi daun lembab, bis bis berwarna merah, lampu lampu merkuri di jalan
semuanya memaafkan mu. Kamu tau?
Lalu senyum mu merobek separuh rindu yang aku simpan di dalam saku.

Mungkin saja sebetulnya kita hanya sepasang kata dalam sajak murahan
yang di tulis ketika sedang gelisah. Mungkin saja Aku dan Kamu
kemudian tersesat dalam lompatan-lompatan diksi dan kalimat
di antara mobil-mobil dan pedagang malam. Mungkin saja kali ini
kau sempat datang dan mengajak ku menghitung jumlah
genangan di jalanan yang banyak jumlahnya karena rindu yang tak terbendung.


November 2013