Pensil 2B, Pensil Warna, Tip-x, dan pena di atas
kertas daur ulang
A5
Pada dadamu aku melukis liang
kugunakan sebagai tanda untuk pulang
Menelusuri tikungan dan lingkar jalan
di iringi baris kerinduan.
Angin memisah misah baris hujan
menjadi sajak yang ingin kubaca untukmu.
Menemanimu berdesakan di metro mini
menelusuri jalan kecil, membuka sepatu,
menangis, lalu luruh di gagang telepon.
Aku menghitung nyala di matamu,
berapa lama kau butuh waktu untuk percaya
jika jejak bunga yang tersisa di jalan
adalah milik kita yang kehilangan arah.
Karena perbedaan
menjadi satu satunya bahasa yang
dapat kita pahami.
Aku selipkan jari jariku untuk menggambar hatimu
Meninggalkannya dengan segera
agar kau bisa kembali
memulai hidupmu
meninggalkan aku di kejauhan,
di dermaga dan tiang tiang yang kering.