Rabu, 13 Agustus 2014

Kelemayar

Kau tau? Tiap kali cuaca panas memanggang kota
aku selalu ingin berteduh di bawah bulu matamu.
Duduk bersandar pada obrolan yang mengalir
meliuk seperti sungai-sungai yang tak akan kering
dibawah matahari yang membara.

"Ah, rambut mu rupanya persis seperti ingatanku tentang laut.
Laut yang pernah aku jumpai di sebuah pulau jauh dari kota ini."

Ucapku, sambil memperhatikan jarimu yang memasukan angka di tabel excel yang bertumpuk-tumpuk seperti jendela pada gedung-gedung tinggi.

Aku tidak pernah mengerti caranya memasukan angka-angka pada tabel excel. Aku tidak pernah paham mengapa kau berbinar menyilaukan.

--

Sejak itu aku ingin mencatat dirimu dengan cara yang tak biasa.
Ku tulis dirimu di tembok rumah, jendela kantor, hingga daun-daun yang 
berantakan seperti kata-kata. 












Selasa, 03 Juni 2014

Lautan

Hati yang kecewa itu seperti lautan yang memeluk mu pada malam-malam yang jenuh. Ketika kau terus melangkah diantara panggilannya yang melembutkan pasir bagi telapak mu. Ia mencintai mu tanpa memerlukan jawaban, hanya jejak-jejak yang kau tinggalkan di bibirnya. 

Dan hanya dalam pejam, kau bisa menyaksikan hamburan jutaan plankton dan ubur-ubur berwarna jingga berlerai dari tepi cakrawala. Mereka berkerumun di ujung-ujung senja dan dengan jari tangan mu kau letakan ciuman paling hangat kedalam ombak yang berkilauan.

Engkau lalu berperasangka: 
kelak jika lautan dan dirinya yang berwarna jingga itu sampai di tepi pantai. Ia akan mencari sepasang matamu untuk di cium atau hinggap di pipimu sebagai sesuatu yang akan engkau kenang.

Tiba-tiba aku jatuh cinta,
jatuh di ujung daun jendela yang kau buka.

Kau buka untuk menunggunya.


Juni 2014

Selasa, 18 Maret 2014

Lelaki yang kehilangan lengan dengan seorang wanita yang bisu

Berapa kali hujan harus turun setiap kali kau jatuh kepada sepasang mata seorang lelaki?
Kau bilang di suatu malam yang gerah:
“ Aku tidak perlu di temani, perempuan bisu yang tuli seperti ini tak perlu di kasihani”

Aku memar memandang bibir mu yang bergetar ketika mengucap itu dengan bahasa isyarat.
Dengan jari tangan yang putih. Membuat aku ingin menggenggam dan menyimpannya dalam saku. Agar bisa tentram dari dunia yang tak berpihak pada mu.

Namun aku laki-laki yang tak punya lengan.
Aku tak bisa mengusap punggung telapak mu, tak bisa menggenggam mu,
tak bisa mengatakan sesuatu dengan isyarat sekalipun.

Aku hanya bisa menyentuhkan pipi ku ke telapak mu.

Dan berdoa meski kau tak mendengarnya:
“Sesungguhnya apa yang ingin aku katakan sudah kau dengar. Mata adalah telinga bagimu dan mulut bagi diriku. Aku ingin menjadi beranda yang melindungi mu dari hujan. Menyediakan ruang yang ada untuk membuat mu akhirnya merasa aman darinya. Dengan begitu Suara ku tak akan hilang meski kita berada di tengah badai yang meruntuhkan segala di sekitar kita”

Terdengar hujan turun rintik-rintik dalam dada kita masing-masing



Tanjung Karang – Sanur 

Senin, 24 Februari 2014

Everything You're Not Supposed To Be

Sudah lama aku jatuh cinta, namun

Kenangan mu mengetuk rumah ku pada suatu sore yang berkabut.
Mengantarkan gelisah milik mu yang berisi setumpuk buku cerita tentang rumah, tawa dan banyak sekali air mata.

Satu dua tiga hingga ribuan jarak sudah aku tempuh. Namun kenangan mu selalu menemukan ku, menawarkan gelisah itu ke hadapan ku. Mungkin barangkali ia bersengkongkol dengan sunyi.

Mungkin ia masuk ke mimpi-mimpiku: Sebuah bayangan yang terus-menerus menggerus kesadaran.

Kelak aku akan membawa batu-batu dari dalam lubuk. Akan kuletakan ke setiap alamat-alamat yang pernah kau datangi, ke pulau-pulau asing, ke sudut-sudut kota, ke bangku-bangku cafe, mencicipi tawa mu, menegak air mata mu. Hanya sebagai tanda bahwa aku telah memasuki relung mu.

Hingga seluruh tubuh ku adalah bayang-bayang mu, dan ia, Kenangan itu menyerah atau menabrakan dirinya di jalan layang. Atau juga bergegas berdamai dengan dirimu yang telah menjadi diriku.

Pada suatu sore yang berkabut



Senin, 02 Desember 2013

Catatan dengan sebuah nama

Bagaimana aku tau dirimu yang
tertulis di selembar catatan kecil ;
hanya sebuah nama
tanpa tanda

Dua gelas kopi panas
satu untuk mu dan satu untuk ku
agar kita bisa berbincang sampai larut,
sambil aku membayangkan 
wajahmu adalah segumpal
awan merah muda

mungkin awan yang manis;
karena warnanya mirip
dengan gula gula

Gula gula yang kau minta dari aku
di pesta malam,
setelah purnama ke delapan
Senyum mu mengembang 
lalu berputar putar di kepala;
Coba engkau hitung berapa jerawatku?

Aku suka caramu bertanya, caramu tersenyum,
caramu menggoda, juga caramu melingkarkan lengan
yang membuat udara bergetar.
Membuat fajar nampak perawan, meski yang terlihat
adalah tujuh jerawat di wajahmu.

Jerawat yang seperti titik bintang
yang menjadi arah perjalanan
ke kotamu. 
Setiap kali aku menelusuri tikungan
dan barisan tiang-tiang yang basah.
Di balik kaca jendela yang buram
oleh ribuan kenangan
berdesak desakan

Telah aku niatkan hanya untuk mengantarkan sebuah doa
ke balik selimut mu :

Ketika gerimis berhamburan, kita tidak bergegas,
Ketika jarak menjadi bias,
aku tak mengaduh.
Namun aku selalu berjanji
dalam hati:

Saat nanti kita bertemu lagi, saat rindu sudah jadi bintang yang redup,
saat lubuk-lubuk kesepian telah penuh.
Aku akan mengatakan padamu;
"hati hatilah dengan senyummu, dengan tujuh
rupa jerawatmu, dengan gula gula manis
serupa rambutmu..
Karena hanya dengan itu, 
akan ada seorang pria yang mencatat mu
di sebuah catatan kecil..
Catatan dengan hanya sebuah nama tanpa tanda"

Empat Pertarungan



1/
Kau memberi isyarat lewat cuaca
dan bulu mata
"aku ingin kau bawa aku sampai ujung sungai..
menelusuri keloknya, memahami riaknya, mengasuh ricik air matanya"
Kita berada di antara etalase kaca,
di luar sana gerimis menulis sajak;
Pada dadamu aku melukis liang
kugunakan sebagai tanda untuk pulang
Menelusuri tikungan dan lingkar jalan
di iringi baris kerinduan.

2/
Kau membaca diriku dari seberapa lama hujan turun
yang kau catat di selembar kertas.
Lalu kau lipat dua dan menyelipkan di saku blazermu.
Saat kau ingin pulang kantor dan menunggu bus di trotoar:
Angin memisah misah baris hujan
menjadi sajak yang ingin kubaca untukmu.
Menemanimu berdesakan di metro mini
menelusuri jalan kecil, membuka sepatu,
menangis, lalu luruh di gagang telepon.

3/
Gelang yang pernah kau beli masih melingkar di lenganku,
melingkar seperti kenangan yang berawal dari satu tempat
dan kembali ke tempat yang sama. Melingkar seperti
stadion tempat kau lari pagi setiap minggu. Melingkar seperti
tikungan tempat kita makan bubur ayam setelah semalam
kita menyusuri jalan mencari sepi.
Aku menghitung nyala di matamu,
berapa lama kau butuh waktu untuk percaya
jika jejak bunga yang tersisa di jalan
adalah milik kita yang kehilangan arah.
Karena perbedaan
menjadi satu satunya bahasa yang
dapat kita pahami.

4/
Di tepi pantai kau memilah angin
menghalangi laut merebut ku.
Tapi perjalanan pun terjadi juga,
di suatu sore yang berakhir cacat.
Seperti bayangan tentang masa depan kita
yang tak pernah lahir sempurna.
Aku selipkan jari jariku untuk menggambar hatimu
Meninggalkannya dengan segera
agar kau bisa kembali
memulai hidupmu
meninggalkan aku di kejauhan,
di dermaga dan tiang tiang yang kering.


Selasa, 12 November 2013

Musim Hujan datang kembali

                                                              - DSR

Aku tak sempat menulis sajak untuk mu hari ini
Begitu pesan singkat yang aku terima dari balik rindu yang turun dari siang tadi.
Mengapa perasaan mengalir meliuk menggenang lalu beriak setiap kali
aku bayangkan kau datang dengan kacamata berembun di balik helm
Aku terlambat lagi bukan?

wangi daun lembab, bis bis berwarna merah, lampu lampu merkuri di jalan
semuanya memaafkan mu. Kamu tau?
Lalu senyum mu merobek separuh rindu yang aku simpan di dalam saku.

Mungkin saja sebetulnya kita hanya sepasang kata dalam sajak murahan
yang di tulis ketika sedang gelisah. Mungkin saja Aku dan Kamu
kemudian tersesat dalam lompatan-lompatan diksi dan kalimat
di antara mobil-mobil dan pedagang malam. Mungkin saja kali ini
kau sempat datang dan mengajak ku menghitung jumlah
genangan di jalanan yang banyak jumlahnya karena rindu yang tak terbendung.


November 2013

Pladeo

Kita duduk di sebuah pelana yang terpisah oleh sungai.
Tak ada nafas yang luput dari udara yang mencekam,
hutan, ranting, bunga yang merindukan matahari
ikut hanyut ke dalam arus waktu yang terjabar
dalam teori relativitas.

Bagaimana jika nanti aku tak bisa mengucapkan perasaan rindu ini?
Betapa sudah aku habiskan tahun-tahun ku memintal hujan
agar lekas turun. Biar menjadi rintik-rintik air yang menjadi alasan
untuk kita berdiri semakin dekat.

Kau bersadar pada pundak ku yang nampak seperti dermaga.
Tempat labuhan kelana yang terentang tanpa batas.
Mungkin nanti, mungkin saja kita menjadi rindu pada
desir angin, pada wangi laut, pada rambut ku yang kering,
pada ikan pari yang mengajak kita bercakap-cakap.

Tentang sajak yang ditulis dengan gelisah.
Pada jajaran minggu ketiga di tahun kabisat..

Oleh sepasang dada yang tersesat

2012

Rabu, 18 September 2013

Hujan di pantai Gili

"Pada akhirnya sekarang gak ada yang lagi yang tersisa kan?"
"Aku hanya mencoba sebisa ku Lang, kalau memang harus.."
Kau berbicara tanpa menoleh padaku, lalu perlahan turun ke tepi pantai. Awan mendung bergulung di cakrawala, di atas gugusan pulau Gili yang terkenal. Ombak semakin keras berdebur ke pantai. Sepertinya kau tidak perduli air laut sudah naik ke kaki mu. Seekor anjing kampung lewat.
"LANG!! Aku gak peduli kalau emang harus seperti itu! GAK PEDULI!"
Kau berteriak dari tepi pantai, namun debur embok memotong suara mu yang terbawa angin.
Aku menghampiri mu, lalu berhenti beberapa langkah dari tempat mu berdiri.
Saat itu aku melihat rambut mu laksana ombak laut yang gelisah. Apakah pantai adalah tempat semua peraduan dan kegundahan yang tak berkesudahan? Tempat semua melebur untuk menghilang ke dalam palung yang gelap. Berdebur lalu pecah terhempas karang yang entah di mana? 
Kau menoleh, sepasang mata itu kini telah basah oleh air mata.
"Sesulit itu kah harus melepaskan Lang?"
Gemetar suara mu terasa hingga ke dada ku. Aku tak menjawab pertanyaan mu, aku biarkan jawaban itu terpecah seperti buih ombak yang membasahi kaki kita, lalu merembas naik ke perasaan masing-masing.
Hujan turun lagi di pantai Gili

Selasa, 09 April 2013

Indomie kuah bersama rintik hujan

- Ruth

Kamu selalu merindukan hujan, mungkin besok atau nanti malam ia akan tiba di sini. Konon hujan adalah air mata langit yang merindukan laut. Kamu tahu? Saya tidak tidak tahu hal itu dan tidak mengerti mengapa kau bertanya.

Jika kamu adalah danau maka aku ingin menjadi teluk yang menampung segala ombak lalu aku limpahkan padamu segala hal yang aku miliki, hingga kau terpenuhi seutuhnya menjadi sebuah danau cantik yang penuh sampan dan perahu bebek yang berenang dari tepi ke tepi. Namun aku sebetulnya ingin menjadi awan saja atau kecipak air di hulu sungai.

Dulu, ketika saya masih sering menghitung berapa banyak ikan mujair di sungai, saya membayangkan kamu akan datang dengan sampan dan membasuh wajah mu di kecipak air itu.

Dulu, sekarang saya tidak pernah membayangkannya lagi.

Aku ingat cedera itu, cedera di pundak mu yang tidak pernah kau ceritakan. Cedera yang menurut ibu mu adalah tanda lahir yang diberikan Tuhan ketika mengirim ruh mu ke dalam janin. Ia sempatkan melukai mu sedikit agar nanti kamu bisa belajar untuk terluka. Menjadi perempuan yang akan mengayuh sampan dari hulu ke hilir.

Masih hujan kah di luar? Masih, namun hanya gerimis dan sedikit silau.
Kamu tau? Hujan membuat saya bahagia, juga membuat saya jadi sendu. Di luar sana, di balik kaca jendela ruang tengah yang berkilau tertimpa cahaya matahari sore. Mungkin ada sebuah janji yang gagal di penuhi. Mungkin juga ada cerita yang seharusnya tidak terjadi.

Saya melihat kamu kembali dari dapur dengan dua mie kuah di dalam mangkok. Hujan masih belum reda, sejenak saya bertanya-tanya. Rindu siapa gerangan?



Selasa, 26 Maret 2013

Akuarium

1/
KAU pernah membeli seekor ikan dari pasar untuk akuarium kita yang hening.
Setiap malam ia berenang dari satu batu ke batu lainnya, meliuk di antara kastil-kastil tanah liat
lalu melesat menciptakan koreografi paling indah di bawah sinar bohlam lampu yang berpendar-pendar.

Aku sering memperhatikan ikan yang kesepian itu memandangku dari balik kaca,
ketika engkau telah tidur dan suara televisi hampir tak terdengar,
hanya detak jam yang kini terdengar nyaring dari sudut ruangan.

Ikan malang itu seolah menceritakan pada ku tentang ricik sungai yang ia rindukan,
tentang daun-daun kuning yang gugur di atas kolam lalu membusuk menjadi zat yang memberinya kehidupan. Lumut-lumut pada batu kali dan matahari yang jadi arah penunjuk jalan.

Juga jutaan kunang-kunang yang pernah ia lihat pada suatu malam, yang melesat menuju angkasa
kemudian turun ke bumi menjadi butir-butir air yang hinggap di sekumpulan daun-daun.

2/
DI DALAM mimpi aku menemukan diriku berenang diantara gelombang rambut mu,
Memeluk mu dengan kedua lengan ku, merengkuh mu dengan segala upaya agar engkau tak
kembali ke dalam sungai dan menjelma menjadi ikan.

Begitu terus menerus hingga suara yang menggetarkan itu membuat ku terbangun.
Suara yang datang dari dalam akuarium,
yang terasa begitu lembab di telinga.