Kamis, 12 November 2015

02:39 PM

Mungkin aku memang tak pernah bisa melipat selimut dan seprai yang menyimpan bau tubuh mu. Sebab rindu seringkali datang memeluk ku setiap malam hingga merasuk ke tulang-tulang. Membuat ku mendengar tetes air, denting gelas, ketukan gerimis di atap teras seperti notasi irama yang merenovasi luka. Menutup kembali retak yang makin terbuka, celah gelap yang seringkali menjadi koloni semut yang mencuri senyum manis itu dari wajah mu. Membawanya ke sarang tempat sedih dilahirkan dari jutaan titik air yang pecahnya terasa menusuk rongga dan malam ini tak ada satu pun dinding dan jendela yang sanggup menahan udara yang begitu pekat di penuhi rindu yang terbakar.

Mampang Prapatan,
Jakarta


Kamis, 08 Oktober 2015

Kemarau yang Marah

Hujan pertama turun memadamkan nyala api
seperti bibir mu yang merah
         : aku teringat senja yang membara di jendela-jendela kaca

Aku mencintaimu hingga menjelma kobar,
membakar rindu, membuat ku hangus
hingga ke jantung

Melahirkan kabut yang menutupi mata
hati dan pesan singkat mu
yang ku catat sebagai sajak:

            Bahwa jatuh dan cinta 
            adalah dua sakit yang berbeda

perih ku menguap pada akhir kemarau,
kekeringan segala
hingga kita tak memiliki air mata
untuk menutup tirai dan jendela

kau kini,
adalah awan yang menggantung
bergulung di cakrawala


Pondok Ranji, 15

Senin, 31 Agustus 2015

Sebab kita tak pernah tau kapan kamu berhenti menjelma menjadi cuaca

1.
KITA adalah residu rindu yang berterbangan di udara ketika cuaca nampak seperti dirimu yang seringkali mengubah dirinya. Kita bukanlah sepasang sepatu seperti dalam lirik lagu milik mu yang menetes dari pengeras suara yang aku dengar diantara suara mu yang menghilang, sebab kata hati sering kali terlalu lirih untuk di dengar bukan? Katamu suatu kali pada tepi pantai yang kekuningan.

Mungkin sebab itu kau merasa perlu memisahkan dirimu dengan nyala api yang melelehkan tubuh kita menjadi satu. Mungkin kau adalah ruang kosong berisi gaung dari rindu, memantul dari setiap sisi perasaan yang penuh luka. Mungkin sebab itu kita sebetulnya adalah sepasang ragu yang berjalan tanpa alas, meninggalkan sepasang sepatu di belakang dan bertelanjanglah pada jalanan yang terjal.

2.
AKU.
Mungkin adalah residu dirimu yang tersisa.

Minggu, 07 Juni 2015

Suatu Cara untuk Membangun Perahu

1/
KAMU adalah langit tanpa warna biru, hujan tanpa aba-aba,
awan tanpa anak-anak yang membayangkan bentuk-bentuk,
Kamu turun dari laut dan membangun rumah dari pasir untuk kita
dengan jendela besar menghandap senja. Membingkainya dalam pas foto
dan kau selipkan di kantung jins ku pada suatu sore yang malang.

2/
PERASAAN bercampur ombak pecah di meja makan.
Aku memunguti serpihannya bertahun-tahun,
mencoba menyusun kembali dengan lirik lagu pop
yang dinyanyikan dari setiap tikungan, ujung-ujung gang,
lobi hotel, galeri lukisan hingga panggung-panggung drama.
Aku masuki setiap studio foto yang membingkai masa depan
dengan janji-janji pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan,
dan jalan-jalan mulus yang dibangun dari rasa rindu.

3/
HINGGA setiap kilometer tertulis seperti sajak yang dibuat
dari kumpulan kata yang aku susun seolah-olah
wajahmu turun dari awan-awan tinggi itu,
mengecup hidungku dan berbisik
Belajarlah untuk membangun layar diatas perasaan,
biarkanlah takdir berhembus dan membawa mu ke tempat-tempat
yang asing, lalu temuilah aku ketika musim layang-layang,
saat setiap kecemasan dibumbungkan ke langit.

Saat doa mu berhenti mencari ku.

Pondok Ranji 2015



Belajar Menulis

KAU selalu menyusun huruf demi huruf pada lembaran perasaan,
menghapusnya ketika ia bermakna sesuatu yang mengingatkan mu
dengan suara yang sangat kau kenal.


Kau bahkan ingin mengulang kembali sajak ini dengan
kata yang romantis, dengan hujan dan
jembatan, juga senja dan jeritan bunga-bunga.


KUMPULAN rindu yang mabuk ketika kita
berjalan di lorong-lorong kota, diantara
parahnya perasaan cinta kita. Bahwa saat itu
kita sadar untuk kembali menjadi penyair,
kita harus kembali belajar menulis.


Mengulang rindu dan menyusun takdir
yang sepotong-sepotong, merapikan setiap
adegan perselisihan, bercinta di kata pengantar
dan saling berpelukan di halaman belakang.


KAU memutuskan untuk menutup buku
dan beranjak dari kursimu. 
Menutup jendela dan menyusun meja.
Meletakan buku mu diantara aku dan rindu yang
kau selipkan di laci mu

Pondok Ranji 2015

Sabtu, 09 Mei 2015

Kamera

Kamera adalah sebuah usaha untuk menangkap cahaya. Tentu.
Kudengar suara getar dari diafragma yang melesat
mengurung kenangan tentang mu kedalam kotak frame
berukuran 4x3

Kau adalah cahaya. 
dan mataku adalah rasa cemas, yang bersiap-siap.
Berupaya membuat aku
mengejar cahaya seperti sekumpulan laron

Lalu aku pun merasa awan-awan akan turun 
dan mengaburkan pandangan mu. Mungkin.
Lalu apakah cahaya itu masih tetap ada?

Meski api telah surut di dalam dada



Pondok Ranji 2015


Rabu, 06 Mei 2015

Akuarium

Di persimpangan itu ada jalan setapak yang jika siang matahari panas biasanya kamu berdiri menunggu angkutan yang akan menuju pasar di turunan di selatan kota. Kamu yang menahan haus memperhatikan akuarium milik toko ikan di seberang.

Kamu membayangkan menjadi ikan yang berenang di dalam gelas kaca, membayangkan tubuh mu meliuk diantara batu-batu pualam dan mainan plastik yang mengeluarkan gelembung-gelembung, yang pecah ketika kau sentuh, yang riaknya terasa hingga kau naik ke dalam angkutan umum.

Tanah Abang
2015

Senin, 20 April 2015

Rabu, 14 Januari 2015

Bayangan

Kami bersahabat dengan bayangan kami sendiri. Bayangan kami yg terbuat dari matahari pagi, yg memanjang hingga ke belakang, yg menjaga punggung kami. Menjaga hitam gelap sisi diri kami.

Bayangan kami adalah sahabat yg paling purba, melekat pada kami sejak matahari diciptakan, bayangan kami adalah nyawa kami yg terlempar dari raga, kami dan bayangan adalah purna.

Palmerah 2015

Rabu, 10 Desember 2014

Ladang Hati

Tiap hari pelan pelan perempuan itu menyemai bebiji macam macam pohon.
"Ladang ini terlalu luas untuk sekedar lapang.." Ujar perempuan itu suatu kali
Maka Dia, seorang laki laki sederhana, merelakan sehampar tubuhnya -juga hatinya
di tanami berbagai pohon. 
"Musim hujan kelak, saat waktunya pohon menyemai bunga menjadi buah.
Ladang ini akan ramai oleh burung. Aku menyebutnya sebagai kebun burung"

Dia tahu semenjak semula,
perempuan itu memang pandai menanam pohon. Maka ia biarkan jari jarinya
menelusuri setiap jengkal hatinya. Ia genggam tangannya menabur
serpihan batu kerikil di ladang hatinya sendiri.
"Supaya bisa jadi petunjuk bagi mu, bahwa aku pernah menemani mu di sini"
Katanya sesudah mengurai air mata yang basah di dadaku.

Dia juga tau bahwa sejak semula, perempuan itu tidak akan pernah menuai buah
yang kini menjadi ladang burung. Dia, laki laki sederhana itu mengerti jika kini
tubuhnya -juga hatinya dipenuhi suara kepak sayap yang terdengar hingga ke ujung air mata.

sanur-seminyak 2010

Selasa, 18 November 2014

Membaca kata berakhiran -au

Aku pernah mencoba mencoba membaca kau di dalam buku cerita pendek yang pernah kau beri padaku pada suatu pagi yang redup. “Sebab beginilah akhirnya kita berdua patah di tikungan jalan” Kalimat kata pengantar yang aku baca dengan lirih.

Aku tak menduga kau juga tidak aku temukan pada piyama mu yang lembut, piyama itu tertinggal di ujung tempat tidur, tertinggal begitu saja tanpa ada yang bertanya untuk apa ia disana, mungkin ia rindu memeluk tubuhmu ketika malam, atau aku yang takut menampik ingatan?

Aku juga pernah bertanya kepada seorang petugas telepon, ia mengatakan mungkin kau ada di pesan-pesan singkat yang sering tak aku balas, ah kata-kata yang manis, ah kata-kata yang terbuat dari kabut, begitu samar seperti masa depan. Begitu lirih seperti kata pengantar yang aku bacakan pada mu.

Di jalanan yang padat tidak ada kau, juga di dinding-dinding papan iklan, hingga telaga yang tenang berkata: 
Maka demi langit yang kelabu
Adakah kau di setiap sudut ruangan? 
berlompatan seperti neutron 
mengisi setiap atom
hadir tanpa adap pertanyaan
hilang tanpa ada jawaban?


Mungkin aku hanya rindu menyebut namamu tanpa menjadi rindu

-Kuningan 2014